Saat bertemu Heraklius di Bizantium, Dihyah menyampaikan surat Nabi dengan hormat, tanpa meninggikan diri. Heraklius pun terkesan dan berkata: “Seandainya aku bersamanya, niscaya aku mencuci kakinya.”
Baca Juga: Madrasah Pertama di Dunia: Bagaimana Nabi Membangun Tradisi Ilmu
Ucapan itu bukan sekadar basa-basi. Ia menunjukkan bahwa cara Rasulullah berdakwah mampu menembus sekat budaya dan bahasa. Diplomasi menjadi alat penyampai akhlak, bukan sekadar pesan politik.
Respon terhadap surat-surat Rasulullah beragam. Heraklius menanggapinya dengan kehati-hatian dan bahkan sempat meneliti tanda-tanda kenabian. Ia memanggil utusan Quraisy (Abu Sufyan) untuk mengonfirmasi reputasi Nabi.
Setelah mendengar bahwa Muhammad dikenal jujur, Heraklius berkata: “Jika apa yang engkau katakan benar, maka dia adalah seorang nabi.”
Sebaliknya, Kisra Persia menolak keras surat Nabi. Ia merobek surat tersebut dengan sombong. Ketika kabar itu sampai kepada Rasulullah, beliau hanya berkata tenang: “Semoga Allah merobek-robek kerajaannya sebagaimana dia merobek suratku.” Dan benar, beberapa tahun kemudian, Kekaisaran Persia runtuh.
Baca Juga: Jejak Rasulullah: Peninggalan Fisik dan Spiritualitas yang Masih Hidup
Sementara itu, Raja Muqauqis dari Mesir menerima surat Nabi dengan hormat, walau tidak memeluk Islam. Ia bahkan membalas surat dengan hadiah, termasuk seorang budak wanita bernama Maria al-Qibtiyah, yang kelak menjadi istri Rasulullah dan ibu dari putra beliau, Ibrahim.
Menurut IFA.id, nilai terbesar dari surat-surat Nabi bukan pada hasil politiknya, melainkan pada prinsip moral yang dikandungnya. Rasulullah mengajarkan tiga prinsip dasar diplomasi yang relevan bahkan hingga era modern:
-
Menghormati lawan bicara, apapun keyakinannya.
Nabi selalu memulai surat dengan nama penerima dan sapaan hormat. Tidak ada hinaan, tidak ada superioritas. -
Mengajak, bukan memaksa.
Semua surat berisi ajakan damai, bukan ultimatum perang. “Engkau akan selamat,” adalah bentuk empati spiritual, bukan ancaman. -
Menjaga kehormatan pesan dan pengirim.
Nabi selalu memastikan surat ditulis dengan segel resmi, bertuliskan “Muhammad Rasulullah”, untuk menegaskan otentisitas dan wibawa tanpa kesombongan.
Dalam konteks dunia modern, nilai-nilai ini setara dengan prinsip diplomasi internasional yang diatur dalam Vienna Convention on Diplomatic Relations (1961)—padahal Rasulullah telah mencontohkannya 14 abad sebelumnya.
Baca Juga: Arsitektur Islam Pertama: Masjid Nabawi dan Filosofi di Balik Desainnya
Warisan diplomasi Nabi terus hidup dan berkembang. Setelah beliau wafat, para khalifah meneruskan tradisi itu.