Artinya, menitipkan agama, amanah, dan akhir amal kepada Allah. IFA.id menyoroti bahwa etika ini bukan sekadar formalitas, melainkan wujud saling mengikat hati dalam doa, yang memperkuat ukhuwah Islamiyah.
Di tengah perjalanan, seorang Muslim dianjurkan menjaga akhlak dan kesabaran. Safar sering kali memunculkan ujian: macet, lelah, atau bahkan konflik kecil.
Baca Juga: Jalan Mendalami Ilmu dengan Hati
Rasulullah ﷺ menyebutkan safar sebagai “sebagian dari azab” karena menguji kesabaran manusia. Namun, justru di situlah nilai adab diuji.
Mengucapkan salam kepada sesama, tidak mengganggu penumpang lain, hingga mendahulukan yang lemah, semuanya bagian dari etika Islami yang membawa keberkahan.
IFA.id juga menemukan bahwa perjalanan bisa menjadi momen spiritual. Rasulullah ﷺ memberi keringanan shalat (qashar dan jama’) bagi musafir.
Hal ini menunjukkan bahwa Allah tidak ingin menyulitkan hamba-Nya. Bahkan, doa musafir termasuk doa yang mustajab.
Baca Juga: Ikhlas dalam Ibadah: Renungan Spiritual yang Menguatkan
Maka, perjalanan seharusnya bukan alasan untuk lalai, tetapi kesempatan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Di sinilah safar menjadi ibadah tersendiri jika dilakukan dengan adab dan doa.
Adab terakhir adalah kembali dengan syukur. Rasulullah ﷺ biasa bertakbir ketika pulang dari safar: “Allâhu akbar, Allâhu akbar, Allâhu akbar, lâ ilâha illallâh, wahdahu lâ syarîkalah...” (HR. Bukhari).
Hal ini menjadi simbol rasa syukur telah diberi keselamatan dalam perjalanan. Di era sekarang, setelah perjalanan panjang menggunakan transportasi modern.
Alangkah indahnya jika seorang Muslim tetap menutup safarnya dengan syukur, doa, dan sujud penuh rasa terima kasih kepada Allah.
Baca Juga: Dzikir Malam: Shufah Hati yang Menenangkan Jiwa
Dari seluruh rangkaian doa, etika, dan adab safar, Islam mengajarkan bahwa perjalanan adalah bagian dari ibadah.
Setiap langkah bisa bernilai pahala, setiap doa bisa menjadi pelindung, dan setiap adab bisa melahirkan keberkahan. IFA.id merangkum, safar dalam Islam bukan hanya soal tujuan duniawi, tetapi juga jalan untuk memperkaya hati dengan rasa syukur dan kesadaran spiritual.