IFA.id -- Kerajaan Samudra Pasai dikenal sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara yang pernah mencapai masa kejayaannya.
Bukti keberadaan peradaban Islam di wilayah ini masih dapat ditemukan melalui berbagai peninggalan sejarah yang kini tersimpan di Museum Islam Samudra Pasai.
Museum ini terletak di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, tidak jauh dari makam Sultan Malikussaleh.
Diresmikan pada Juni 2017, museum ini menyimpan lebih dari 3.000 artefak bersejarah dari era kejayaan Kerajaan Samudra Pasai.
Baca Juga: Benteng Tolukko: Saksi Bisu Sejarah Perdagangan Rempah dan Perebutan Kekuasaan
Koleksi yang ada terbagi dalam lima kategori utama: filologika (manuskrip), numismatika (mata uang), etnografika (perhiasan), historika (batu nisan), dan kramologika (keramik).
Beberapa koleksi yang menarik perhatian adalah perhiasan tradisional yang terbuat dari batu manik, kuarsa, hingga batu permata seperti safir dan ruby.
Selain itu, museum ini juga memiliki berbagai mata uang kuno, termasuk dirham dalam tiga ukuran berbeda serta koin dari timah, perak, dan kuningan yang dikenal sebagai "keuh" atau "cash."
Pengunjung juga dapat melihat sekitar 40 manuskrip dari abad ke-17 yang masih menjadi referensi hingga kini, termasuk mushaf Al-Qur’an yang ditulis dengan tinta berwarna hitam, merah, dan kuning.
Baca Juga: Briliarta Anugrah Putra: Dari Hobi Masa Kecil Menjadi Produsen Layang-Layang Sukses
Museum ini dibuka setiap hari kecuali Jumat dan Minggu, dengan jam operasional pukul 09.00 – 16.00 WIB.
Salah satu program unggulan yang menarik perhatian adalah "Belajar Bersama di Museum" (BBM), yang memberikan kesempatan bagi siswa dari berbagai sekolah untuk mempelajari sejarah secara langsung.
Program ini mendapat respons positif, terbukti dengan antusiasme tinggi dari sekolah-sekolah yang ingin berpartisipasi.
Selain itu, museum juga memiliki program "Museum Masuk Sekolah" sejak tahun 2020, yang bertujuan untuk lebih memperkenalkan sejarah kepada generasi muda.