Baca Juga: Julid dan Dampaknya terhadap Amal
Merekam dan menyebarkan kondisi korban musibah tanpa izin termasuk bentuk merendahkan martabat seseorang. IFA.id sering menemukan kasus viral di mana wajah korban disebarkan tanpa etika, lalu menambah luka bagi keluarga.
Menolong dalam Islam berarti menjaga kehormatan, termasuk tidak membeberkan aib atau kondisi fisik korban.
Sikap Keempat: Memberikan Pertolongan Nyata Sesuai Kemampuan
Tidak semua orang bisa memberikan pertolongan medis. Tidak semua kuat mengangkat. Tidak semua bisa mengatur kerumunan. Tapi dalam ajaran Islam, membantu sesuai kemampuan adalah bagian dari kebaikan.
Jenis pertolongan nyata bisa beragam:
• Menghubungi ambulans.
• Mengarahkan lalu lintas.
• Memberikan air minum.
• Menjaga barang-barang korban agar tidak hilang.
• Menenangkan keluarga korban.
• Menjadi saksi kepada pihak berwenang.
• Meminjamkan ponsel korban untuk memberi kabar ke keluarga.
Baca Juga: Membersihkan Hati dari Sifat Julid
IFA.id mencatat, kontribusi kecil sering kali lebih bermakna daripada tindakan besar yang dilakukan tanpa persiapan.
Sikap Kelima: Tidak Menghakimi
Ada kecenderungan sebagian orang untuk langsung mengambil kesimpulan. “Salah sendiri.” “Kurang hati-hati.” “Pantas terjadi begitu.” Padahal dalam Islam, menghakimi orang yang sedang tertimpa musibah adalah perbuatan tercela.
Allah mengingatkan dalam AlQuran (QS. Al Hujurat: 12) tentang larangan berburuk sangka. Musibah adalah ujian, dan siapa pun bisa mengalaminya. Justru di saat seperti itulah, Islam mengajarkan empati, bukan menyalahkan.
IFA.id menekankan bahwa kalimat-kalimat sederhana seperti “Semoga Allah memberi kekuatan” jauh lebih baik dibanding komentar yang merendahkan.
Baca Juga: Akibat Julid pada Hubungan Sesama Muslim
Sikap Keenam: Mengiringi dengan Doa
Islam menuntun agar setiap muslim mendoakan kebaikan bagi saudaranya. Ketika melihat orang tertimpa musibah, dianjurkan membaca doa: