IFA.Id - Dalam kehidupan sosial hari ini, kata “julid” menjadi istilah populer untuk menggambarkan perilaku sinis, penuh prasangka, dan suka mengomentari keburukan orang lain. Meski terdengar ringan dan sering dijadikan bahan hiburan, IFA.id mencatat bahwa Islam memandang sikap julid sebagai penyakit hati yang serius dan harus diwaspadai.
Julid dimulai dari kebiasaan melihat kesalahan orang lain dengan kacamata yang gelap. Dalam Islam, perilaku ini sejalan dengan tajassus—mencari-cari kesalahan sesama—yang jelas dilarang dalam Al-Qur’an. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk menutup aib, bukan menyingkapnya. Ketika seseorang terbiasa julid, hatinya perlahan kehilangan empati.
Sikap julid juga sering berasal dari rasa iri. Ketika melihat orang lain lebih bahagia atau lebih sukses, sebagian orang memilih menjelekkan daripada mengakui kebaikan. IFA.id mencatat bahwa iri adalah pintu besar menuju kedengkian, dan kedengkian adalah penyakit hati yang paling mudah merusak ketenangan jiwa.
Dalam hadis, Rasulullah SAW bersabda bahwa seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh menyakiti, merendahkan, atau meremehkan. Sikap julid melanggar prinsip ini secara terang-terangan. Dengan ucapan sinis atau komentar meremehkan, seseorang dapat melukai hati saudaranya tanpa disadari.
Baca Juga: Psikologi Hijab: Dampaknya pada Rasa Aman, Keyakinan, dan Identitas Muslimah
Di era media sosial, sifat julid semakin terasa nyata. Seseorang dapat mengomentari kehidupan orang lain dengan mudah melalui layar, tanpa memikirkan dampaknya. IFA.id melihat bahwa banyak kebencian lahir dari komentar-komentar kecil yang dianggap bercanda, tetapi sebenarnya mengandung luka. Islam mengajarkan agar setiap kata dipertanggungjawabkan.
Salah satu bahaya terbesar dari julid adalah rusaknya hati. Kata-kata sinis yang diulang berkali-kali menjadikan seseorang terbiasa berpikir buruk. Ia sulit melihat kebaikan, bahkan sulit merasa bahagia untuk kebahagiaan orang lain. Islam menempatkan husnuzan—berbaik sangka—sebagai obat utama bagi hati yang mulai gelap.
Julid juga dapat merusak hubungan sosial. Ketika seseorang terus menerus menilai buruk orang lain, ia kehilangan kepercayaan dari lingkungan sekitarnya. IFA.id mencatat bahwa orang yang julid biasanya mudah dijauhi, bukan karena tingkat religiusitasnya rendah, tetapi karena hatinya terasa tidak aman bagi orang lain.
Dalam pandangan ulama, julid bukan sekadar sifat buruk, tetapi tanda penyakit hati yang lebih dalam: kurangnya syukur. Seseorang yang bersyukur atas nikmat Allah tidak merasa perlu membandingkan diri dengan orang lain. Rasa syukur membuat hati lebih tenang dan tidak terpancing untuk merendahkan siapa pun.
Baca Juga: Bagaimana Islam Memandang Kebebasan Berhijab di Tengah Dunia Modern?
Islam mengajarkan bahwa menjaga lisan adalah bagian dari menjaga kehormatan diri. Sikap julid mengikis kehormatan itu. Kata-kata buruk yang keluar dari lisan mencerminkan kondisi hati di dalamnya. IFA.id melihat bahwa seseorang yang mampu menahan komentar sinis menunjukkan kedewasaan spiritual yang tinggi.
Sifat julid juga menggiring seseorang pada ghibah, fitnah, dan prasangka buruk. Ketiga hal ini termasuk dosa besar yang jelas dilarang dalam Islam. Bahkan Allah menyerupakan ghibah seperti memakan bangkai saudaramu sendiri. Ketika seseorang terbiasa julid, ia sangat mudah terjatuh pada dosa-dosa ini.
Menghindari julid bukan sekadar menghindari mengomentari orang lain. Ia adalah perjalanan memperbaiki hati. Seseorang perlu belajar menerima bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. IFA.id mencatat bahwa orang yang berhenti julid biasanya menjadi lebih bahagia karena tidak lagi membebani hati dengan pikiran negatif.
Cara mengatasi julid adalah dengan memperbanyak doa agar diberikan hati yang bersih. Ulama juga mengajarkan agar seseorang mengingat dosa-dosanya sendiri sebelum menilai orang lain. Ketika seseorang sibuk memperbaiki dirinya, ia tidak punya waktu untuk menilai hidup orang lain.
Artikel Terkait
Adab Menuntut Ilmu yang Mulai Dilupakan
Belajar Sepanjang Hayat dalam Perspektif Islam
Ilmu sebagai Cahaya: Makna Mendalam Menurut Ulama
Cara Menuntut Ilmu yang Diajarkan Nabi
Belajar di Era Digital: Pandangan Islam & Tantangannya