IFA.id - mencatat bahwa perjalanan hijab tidak pernah berdiri sebagai sekadar aturan berpakaian. Ia adalah cerita panjang tentang identitas, keyakinan, perubahan budaya, dan cara manusia memahami kesucian dirinya.
Banyak yang mengenal hijab hanya dari bentuk luarnya, namun sejarahnya membentang jauh ke belakang, menyentuh masa peradaban kuno, masa kenabian, hingga era media sosial saat ini.
Pernah ada masa ketika hijab dipahami sebagai pembeda kelas sosial, lalu berubah menjadi simbol takwa, bahkan kini dilihat pula sebagai ekspresi gaya hidup.
Perjalanan panjang ini membuktikan satu hal: hijab bukan sekadar kain, melainkan narasi yang tumbuh bersama manusia.
Baca Juga: Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya
Hijab Sebelum Islam, Jejak Asal yang Jarang Dibicarakan
IFA.id melansir dari berbagai kajian sejarah bahwa praktik menutup kepala atau tubuh sudah dikenal jauh sebelum Islam hadir di Jazirah Arab. Pada peradaban Mesopotamia, perempuan bangsawan menggunakan penutup kepala sebagai simbol kehormatan dan status sosial.
Bahkan sebagian aturan hukum kuno membedakan perempuan merdeka dan budak dari cara mereka berpakaian.
Di wilayah Timur Dekat kuno, penutup kepala menjadi tanda kehormatan keluarga. Sementara dalam tradisi Yahudi dan Kristen awal, praktik menutup rambut juga dikenal sebagai bentuk kesopanan. Artinya, hijab sebagai konsep bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba.
Namun, Islam tidak sekadar mewarisi konsep tersebut, tetapi memberikan makna baru yang lebih spiritual, lebih berimbang, dan lebih humanis.
Baca Juga: Makna Hijab dalam Islam: Antara Ibadah dan Identitas Diri
Hijab pada Masa Nabi, Sebuah Titik Balik Makna
Ketika Islam datang, hijab memperoleh dimensi ibadah yang lebih jelas. Al-Qur’an menekankan prinsip kesopanan dan perlindungan, bukan hanya simbol sosial. IFA.id merangkum bahwa salah satu ayat kunci yang sering dirujuk adalah QS. An-Nur ayat 31 dan QS. Al-Ahzab ayat 59.