Jika dilihat dari sisi nutrisi, kurma memang istimewa. Tinggi serat, kaya mineral seperti kalium dan magnesium, serta mengandung gula alami yang tidak membahayakan selama dikonsumsi dengan porsi wajar.
Bukankah masuk akal jika makanan bernutrisi padat ini disebut sebagai penguat tubuh? Apalagi di tengah kerasnya iklim gurun, kurma dapat menjadi sumber energi cepat sekaligus memberi rasa kenyang yang lebih stabil.
IFA.id mencatat bahwa dalam beberapa literatur sejarah, kurma menjadi bahan pangan yang paling mudah disimpan, tahan lama, dan tetap layak konsumsi meski tanpa teknologi pengawet.
Baca Juga: Rahasia Sunnah Kurma Pagi yang Jarang Dibahas
Sifat ini membuat kurma bukan hanya sekadar buah, tetapi solusi bertahan hidup di tengah keterbatasan makanan.
Dalam kondisi seperti itu, tak heran bila kurma disebut sebagai obat, sebab ia memang “menyembuhkan” kelelahan, mengembalikan energi, dan menjaga tubuh tetap bugar.
Pengobatan Nabi: Antara Spiritual dan Kesehatan Fisik
Dalam pembahasan thibbun nabawi (pengobatan Nabi), kurma bukan hanya makanan tetapi juga bagian dari pendekatan holistik. Nabi mengajarkan bahwa kesehatan mencakup fisik, jiwa, dan hubungan dengan Tuhan.
Ada hadis yang menceritakan tentang ruqyah ketika seseorang mengalami gangguan tertentu, dan sebagian ulama mengaitkan praktik itu dengan konsumsi kurma Ajwa.
Baca Juga: Momentum Hijrah: Bismillah Kembali Jadi Pembuka Setiap Langkah
Kurma bukan hanya dianggap sebagai pangan, tetapi penyeimbang ruhani. Ia hadir sebagai bagian dari ekosistem ibadah dan pengobatan.
Hal ini membuat pengertian “kurma sebagai obat” semakin luas. Bukan hanya karena kandungan gizinya, tetapi karena posisinya sebagai makanan yang dipandang membawa keberkahan bagi yang memakannya.
IFA.id menemukan bahwa pemahaman seperti ini masih relevan hari ini. Banyak orang yang merawat kesehatan mental dengan makanan bernutrisi, pola hidup baik, dan penguatan spiritual. Kurma hadir di titik temu tersebut.
Pandangan Ilmiah Modern: Kurma Memang Punya Efek Terapeutik
Jika hadis dan tradisi Islam menempatkan kurma sebagai obat dalam berbagai konteks, bagaimana pandangan sains modern?