IFA.id - pernah menghadiri sebuah acara kecil di sebuah kampung di Jawa Timur. Langit sore tampak merona, wangi kopi menyelinap dari dapur, dan beberapa tetangga duduk melingkar sambil menunggu satu momen penting: walimatu safar.
Seorang warga hendak berangkat merantau ke Kalimantan, dan sebelum meninggalkan kampung, ia mengundang keluarga serta para tetangga untuk memohon doa agar perjalanan dan masa tinggalnya diberkahi.
Momen sederhana itu terasa hangat, penuh kedekatan, dan menyimpan warisan panjang dari budaya Islam Nusantara.
Tradisi walimatu safar memang sudah akrab di berbagai daerah Indonesia. Mulai dari Jawa, Madura, Bugis, Minang, hingga Lombok, acara perpisahan sebelum perjalanan jauh ini menjadi ruang untuk merawat kekeluargaan.
Baca Juga: Walimatu Safar untuk Jamaah Umrah dan Haji: Bagaimana Tuntunan Syariat?
Namun menariknya, tidak semua orang memahami asal usulnya, bagaimana ia berkembang, serta apa saja nilai yang menyusunnya.
IFA.id mencoba merangkum jejak panjang tradisi ini dari sudut pandang sejarah, sosial, dan spiritual. Sebuah perjalanan kecil yang berusaha memahami bagaimana masyarakat Muslim Indonesia memadukan ajaran Islam dengan budaya lokal.
Akar Sejarah yang Tidak Selalu Ditulis
Tidak ada satu buku sejarah besar yang mencatat secara eksplisit kapan walimatu safar pertama kali muncul di Nusantara.
Namun sebagian peneliti budaya Islam Jawa menyebutkan bahwa tradisi ini tumbuh seiring masuknya ajaran Islam pada abad ke-13 hingga 16, ketika para ulama lokal mengajarkan pentingnya saling mendoakan sebelum seseorang melakukan perjalanan jauh.
Baca Juga: Adab Walimatu Safar: Doa, Niat, dan Etika Sebelum Bepergian
Pada masa itu, bepergian bukanlah perkara remeh. Laut sering dilanda badai, jalur darat dipenuhi risiko perampok, dan banyak orang tidak bisa memastikan apakah mereka bisa kembali. Sehingga, momen berpamitan menjadi sangat penting.
Di sinilah tradisi walimatu safar mendapatkan ruangnya. Masyarakat berkumpul, membaca doa keselamatan, dan memberikan restu. Budaya gotong royong yang sudah mengakar di Nusantara berpadu dengan nilai-nilai Islam, melahirkan tradisi penuh makna yang bertahan hingga sekarang.
IFA.id mencatat bahwa beberapa catatan kolonial Belanda bahkan menyebut tradisi serupa di pesisir Jawa abad ke-18, di mana keluarga mengadakan “jamuan doa” sebelum anggota keluarganya berlayar meninggalkan pelabuhan Gresik atau Jepara.
Meski istilah “walimatu safar” tidak muncul dalam catatan itu, pola kegiatan yang serupa menunjukkan bahwa ritual doa sebelum perjalanan sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Muslim kala itu.
Artikel Terkait
Seni Mencintai Diri dalam Islam tanpa Jadi Egois
Haji, Perjalanan yang Membersihkan Hati
Keutamaan Haji dalam Menyatukan Umat
Dampak Spiritual Haji yang Jarang Dibahas