IFA.id - Ada satu momen yang selalu IFA.id ingat saat membaca kisah-kisah Nabi: bagaimana beliau begitu lembut menjaga kesehatan umat, bahkan lewat hal-hal sederhana seperti menyantap kurma.
Tradisi kecil yang tampaknya remeh, tetapi jika ditelusuri lebih dalam, ternyata menyimpan hikmah yang luas.
Kurma bukan sekadar buah padang pasir. Dalam banyak riwayat, kurma muncul sebagai simbol kesederhanaan, kekuatan, dan keberkahan. Lalu apa sebenarnya yang membuat Nabi sangat menekankan konsumsi kurma? Mengapa buah kecil ini diposisikan begitu istimewa?
Itulah pertanyaan yang IFA.id coba jawab secara runut: dari dalil, konteks sejarah, manfaat kesehatan, hingga pesan spiritual yang sering terlupakan.
Baca Juga: Rahasia Sunnah Kurma Pagi yang Jarang Dibahas
Mengapa Nabi Sangat Menganjurkan Makan Kurma?
Kata kunci: makan kurma, sunnah kurma, kurma dalam Islam
Muncul di paragraf pertama sesuai aturan SEO.
Jejak Kurma dalam Sunnah
Ketika menelusuri hadis-hadis shahih, IFA.id menemukan bahwa kurma menempati posisi istimewa dalam kehidupan Rasulullah. Dalam Shahih Bukhari, disebutkan Nabi biasa berbuka puasa dengan beberapa butir kurma. Jika tidak ada kurma, beliau memilih air.
Penggunaan kurma tidak hanya berhenti pada momen berbuka. Dalam riwayat lain, Nabi menyebutkan khusus kurma Ajwa sebagai jenis kurma yang memiliki keutamaan tersendiri.
“Siapa yang makan tujuh butir kurma Ajwa pada pagi hari, maka hari itu ia tidak akan terkena sihir dan racun.” (HR. Bukhari).
Baca Juga: Momentum Hijrah: Bismillah Kembali Jadi Pembuka Setiap Langkah
Apakah makna hadis ini harfiah atau simbolik? Para ulama menjelaskan bahwa kurma menjadi bagian dari pola hidup sehat Nabi, sekaligus perlambang perlindungan fisik maupun spiritual. Ada dimensi ibadah dalam setiap hal kecil yang beliau contohkan.