Baca Juga: Bolehkah Walimatu Safar? Pandangan Ulama Klasik dan Kontemporer
Perpaduan Adat dan Nilai Islam
Walimatu safar di Nusantara selalu menarik karena berada di titik pertemuan antara syariat dan budaya. Ia bukan ritual wajib, tetapi banyak masyarakat meyakini ada keberkahan dalam mendoakan saudara yang hendak bepergian.
Dalam praktiknya, tradisi ini memiliki beberapa elemen khas:
1. Pembacaan Doa Safar
Doa ini biasanya diambil dari doa-doa perjalanan yang diajarkan Nabi Muhammad. Bacaan seperti “Subhanalladzi sakkhara lana…” kerap terdengar dalam berbagai acara walimatu safar di kampung-kampung.
2. Nasihat dari Orang Tua atau Tokoh Agama
Bagian ini hampir menjadi ciri umum. Sesepuh keluarga, ustaz, atau kiai biasanya memberikan pesan singkat terkait adab safar, pentingnya menjaga shalat, serta menjaga diri di tempat baru.
Baca Juga: Makna Walimatu Safar: Tradisi Perpisahan yang Sarat Doa
3. Makan Bersama (Kenduri atau Slametan)
Elemen budaya Nusantara sangat terasa di sini. Makan bersama menjadi simbol kebersamaan, sekaligus bentuk syukur.
4. Pemberian Amanah atau Titipan
Tidak jarang orang tua memberikan pesan khusus, seperti menjaga nama baik keluarga atau menjaga hubungan dengan masyarakat setempat di perantauan.
Masing-masing daerah memiliki kekhasannya. Di Minangkabau, acara ini bisa dipadukan dengan manjapuik doa atau permohonan restu keluarga besar.
Di Bugis, biasanya diiringi pembacaan doa panjang oleh imam kampung. Sementara di Lombok, acara ini mirip dengan begawe kecil, sebuah hajatan sederhana sebelum seseorang melakukan perjalanan penting.