IFA.id - merangkum sebuah fenomena menarik yang masih hidup di banyak daerah: walimatu safar, tradisi melepas seseorang yang akan bepergian jauh.
Di sejumlah kampung di Jawa, momen ini identik dengan hidangan sederhana, doa bersama, dan suasana hangat yang sulit ditemukan dalam perjalanan modern sekarang ini.
Sering kali, tradisi ini terlihat begitu biasa, tetapi siapa yang menyangka bahwa di baliknya tersimpan nilai spiritual yang kuat?
Bagi sebagian masyarakat, walimatu safar adalah bentuk perhatian dan penghormatan. Namun di dunia Islam, tradisi ini menyimpan makna lebih dari sekadar kumpul keluarga. Ia berkait erat dengan doa, niat baik, dan ikatan sosial.
Hal inilah yang membuat walimatu safar menarik dibahas: apakah ia murni adat? Apakah ia bagian dari syariat? Dan apa sebenarnya makna mendalam yang dibawa tradisi ini?
Baca Juga: Hukum Walimatu Safar dalam Islam: Antara Adat dan Syariat
IFA.id mencatat bahwa perpisahan dalam Islam bukan sekadar formalitas. Justru, ia merupakan momen yang mengingatkan tentang ketidakpastian perjalanan, sekaligus memohon perlindungan kepada Allah yang Maha Menjaga.
Perpisahan yang Memanusiakan: Mengapa Walimatu Safar Terasa Penting?
Pernah ada momen ketika seseorang akan berangkat jauh, dan suasana rumah mendadak berubah?
Ada dorongan untuk sekadar duduk bersama, berbicara, lalu menutupnya dengan doa. Secara psikologis, manusia butuh transisi emosional ketika menghadapi perpisahan. Dalam konteks itu, walimatu safar hadir sebagai jembatan.
IFA.id melansir sejumlah pandangan sosial bahwa tradisi ini tidak hanya soal spiritualitas, tetapi juga memperkuat kelekatan, menciptakan ketenangan bagi yang bepergian, dan menghubungkan orang-orang yang selama ini terpisah kesibukan.
Baca Juga: Rahasia Manfaat Haji Menurut Islam
Bahkan dalam kajian antropologi, kegiatan makan bersama menjelang perjalanan dianggap sebagai simbol saling menitipkan keselamatan.