Baca Juga: Mengapa Haji Jadi Puncak Penyucian Diri?
IFA.id mencatat, pengalaman sejumlah jamaah haji dan pekerja migran menunjukkan bahwa doa dari keluarga memberikan ketenangan luar biasa, bahkan menjadi penguat ketika menghadapi rindu dan tantangan.
Islam sendiri sangat menekankan peran doa dalam safar. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa doa musafir adalah salah satu yang mustajab. Di sinilah letak hikmah tambahan walimatu safar: bukan hanya mendoakan yang pergi, tetapi meminta ia mendoakan yang ditinggalkan.
Nilai Sosial yang Sering Terlupakan
Salah satu keindahan walimatu safar adalah menghidupkan kembali budaya silaturahmi. Dalam dunia serba cepat seperti sekarang, pertemuan semacam ini semakin jarang dilakukan.
Padahal, tradisi ini menjadi kesempatan untuk meminta maaf, saling mendoakan, dan menjalin kembali hubungan yang mungkin renggang.
Baca Juga: Ketika Cemas Datang, Begini Cara Islam Menenangkannya
IFA.id mencatat berbagai penelitian mengenai efek sosial tradisi perpisahan. Banyak di antaranya menunjukkan bahwa kegiatan kumpul menjelang perjalanan memberi efek psikologis positif: mengurangi kecemasan, menenangkan pikiran, dan meningkatkan rasa percaya diri.
Di masyarakat pedesaan, walimatu safar juga menjadi pengingat bahwa perjalanan seseorang membawa nama keluarga dan kampung halaman. Ada nilai kebersamaan yang ikut dijaga: ketika satu orang berangkat, seluruh komunitas seolah ikut menitipkan harapan.
Walimatu Safar Masa Kini: Masih Relevan?
Di kota besar, tradisi ini mulai bergeser. Banyak yang menggantinya dengan pesan singkat, video call, atau sekadar status pengumuman akan bepergian.
Namun IFA.id melihat bahwa kebutuhan emosional manusia tidak pernah berubah. Meski formatnya lebih ringkas, semangat walimatu safar tetap bertahan.
Baca Juga: Dampak Spiritual Haji yang Jarang Dibahas
Beberapa keluarga modern memilih bentuk lebih sederhana: makan malam bersama, doa singkat, atau sekadar bincang santai sebelum berangkat. Intinya bukan pada bentuk, tetapi pada nilai yang dikandungnya: doa, restu, dan rasa saling menjaga.
Untuk generasi muda yang mungkin merasa tradisi ini ketinggalan zaman, ada baiknya memahami makna yang dibawa: bahwa setiap perjalanan adalah peluang untuk memperbaiki hubungan, memperkuat ikatan, dan meningkatkan doa.
Artikel Terkait
Seni Mencintai Diri dalam Islam tanpa Jadi Egois
Haji, Perjalanan yang Membersihkan Hati