Artinya, kecemasan bukan tanda kurang iman. Yang dilihat adalah bagaimana mengelolanya.
Dalam banyak konseling modern, kecemasan dijelaskan sebagai reaksi tubuh terhadap ancaman, baik nyata maupun hanya dari pikiran. Dalam Islam, semua itu tetap dipandang sebagai bagian dari ciptaan Allah yang butuh dirawat, bukan dihakimi.
Baca Juga: Manfaat Haji bagi Jiwa dan Ibadah
Islam mengajarkan usaha lahir dan batin, karena manusia terdiri dari dua unsur itu. Saat cemas, usaha batin dilakukan lewat dzikir dan doa. Usaha lahir dilakukan lewat teknik pernapasan, istirahat cukup, dan manajemen pikiran.
IFA.id merangkum keduanya agar lebih membumi.
1. Menenangkan Napas, Menenangkan Hati
Dalam ilmu psikologi, teknik pernapasan seperti deep breathing terbukti menurunkan kadar hormon stres. Menariknya, Islam sudah menanamkan kesadaran napas dalam ibadah.
Setiap sujud, napas cenderung lebih panjang dan lambat. Setiap duduk di antara dua sujud, ada ritme yang memaksa tubuh berhenti sebentar. Ketika cemas datang, mengambil satu menit untuk menarik napas perlahan lalu melepaskannya bisa membantu menurunkan ketegangan tubuh.
Kesadaran napas ini seperti jeda kecil yang membuka ruang bagi hati untuk kembali menghadirkan Allah.
Baca Juga: Membangun Self-Healing ala Islam yang Lebih Membumi
2. Dzikir: Terapi Tenang Paling Sederhana
Tanggal dan angka boleh berubah setiap tahun, tapi ketenangan dari dzikir tetap sama. Banyak orang menganggap dzikir hanya ritual, padahal ia adalah bentuk grounding yang paling kuat.
IFA.id mencatat beberapa dzikir yang sering dipakai untuk meredakan kecemasan:
“Hasbunallah wa ni’mal wakil.”
“La hawla wa la quwwata illa billah.”
“Astaghfirullah.”
Setiap kalimat itu seperti penegasan lembut bahwa manusia tidak harus mengontrol segalanya. Ada ruang untuk menyerahkan urusan kepada Allah.