Ketika pikiran mulai berlari ke arah negatif, mengulang dzikir berulang-ulang menenangkan sistem saraf sekaligus mengingatkan hati bahwa ada tempat bersandar.
Baca Juga: Mengapa Dzikir Jadi Terapi Mental Paling Menenangkan?
3. Doa Nabi untuk Mengusir Gelisah
Nabi Muhammad mengajarkan doa khusus untuk kecemasan dan kesedihan. Doa ini begitu menghangatkan, karena kata-katanya seperti pelukan untuk jiwa yang sedang rapuh.
“Allahumma inni a'udzu bika minal hammi wal hazan, wal ‘ajzi wal kasal, wal bukhli wal jubn, wa dhaala’id dain wa ghalabatir rijal.”
Artinya:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat kikir dan pengecut, dari lilitan hutang dan tekanan manusia.”
Doa ini bukan sekadar lafaz, tapi penegasan bahwa kecemasan bukan sesuatu yang harus dipikul sendirian. Ada tempat kembali setiap kali hati kehilangan arah.
Baca Juga: Cara Islam Menguatkan Mental di Tengah Hidup yang Berat
4. Menulis Kekhawatiran: Cara Modern yang Tidak Bertentangan dengan Islam
Tidak sedikit ulama dan konselor muslim yang mendorong praktik menulis untuk meredakan kecemasan. Ketika pikiran terlalu penuh, menuliskannya membuat isi hati lebih terstruktur.
Dalam bahasa lain, ini bagian dari muhasabah.
Dengan menulis, seseorang melihat ketakutannya secara lebih jernih dan mengukur apakah ia sesuai kenyataan atau hanya bayangan pikiran. Banyak orang kaget mengetahui bahwa apa yang terlihat besar di kepala ternyata lebih kecil ketika ditulis.
5. Mencari Teman Bicara yang Aman
Islam sangat menekankan musyawarah dan saling menopang. Kecemasan tumbuh ketika seseorang merasa sendirian. Karena itu, berbagi cerita dengan orang yang tepat menjadi bagian dari penyembuhan.
Nabi mengajarkan pentingnya sahabat yang baik. Ulama besar seperti Imam Al-Ghazali menulis panjang tentang peran teman yang menenangkan jiwa.
Artikel Terkait
Kurma, Buah Sunnah yang Sarat Manfaat
Rahasia Kurma dalam Tradisi Nabi
Mengapa Kurma Dianjurkan Saat Berbuka?