Dalam banyak penelitian modern, berbicara dengan seseorang yang dipercaya dapat mengurangi tekanan mental.
Baca Juga: Rahasia Kurma dalam Tradisi Nabi
Dalam Islam, doa berperan seperti itu. Doa adalah cara seseorang berbicara pada Zat yang selalu mendengar. Doa membuat seseorang merasa diperhatikan, sekalipun tak ada manusia yang tahu beban yang sedang dipikul.
IFA.id sering menemukan bahwa banyak orang lebih tenang setelah berdoa bukan karena masalah langsung selesai, tetapi karena hatinya merasa ditemani.
Mengakui Kelemahan Bukan Kegagalan
Satu hal yang sering luput dari pembahasan kesehatan mental dalam Islam adalah keberanian untuk mengakui keterbatasan. Islam tidak memaksa manusia menjadi sempurna. Bahkan Allah sendiri mengatakan bahwa manusia diciptakan dalam kondisi lemah.
Ketika seseorang merasa lelah, itu bukan kesalahan. Itu alarm. Ketika seseorang merasa kehilangan arah, itu bukan kekurangan iman. Itu sinyal bahwa diri sedang membutuhkan bimbingan dan ketenangan.
Baca Juga: Kurma, Buah Sunnah yang Sarat Manfaat
Mencari Bantuan Bukan Aib
Dalam sejarah Islam, para ulama besar berkonsultasi dengan gurunya, berdiskusi, meminta hikmah, dan mencari pertolongan ketika hatinya tidak stabil. Mencari bantuan bukanlah tanda kegagalan mental, tetapi langkah penyelamatan diri.
Psikolog, konselor, atau ahli ruqyah syar’i adalah bagian dari ikhtiar. Islam tidak pernah menghalangi seseorang untuk mencari pertolongan profesional. Yang dilarang adalah membiarkan diri sendiri tenggelam dalam masalah tanpa usaha keluar.
Kembali ke Ritme Sehat
Ritme hidup berpengaruh besar terhadap kesehatan mental. Islam sudah mengatur ritme ini melalui shalat lima waktu, jeda tidur yang cukup, pola makan seimbang, dan larangan berlebih-lebihan.
Shalat setiap beberapa jam menciptakan pola regulasi emosional yang stabil. Ada momen tenang berkala yang membantu mental bertahan.
Baca Juga: Keutamaan Kurma dalam Ajaran Islam