Satu unggahan, satu komentar, atau satu video reaksi dapat menjadi bukti betapa cepatnya reputasi seseorang hancur hanya karena satu kalimat yang seharusnya tidak disampaikan.
Baca Juga: Bahaya Ghibah yang Sering Diremehkan
Sebuah fenomena kecil bisa menjadi contoh. Dalam beberapa tahun terakhir, tagar-tagar yang memuat nama seseorang sering tiba-tiba viral. Mulai dari artis, tokoh publik, guru, bahkan rekan kerja biasa.
Ketika seseorang sedang tersandung isu, warganet berdatangan memberi komentar dan menambahkan narasi mereka sendiri.
Tidak sedikit komentar yang sudah melampaui batas, mengaitkan aib lama, menyebarkan informasi yang belum jelas, bahkan memaki atau merendahkan. IFA.id melihat bahwa pola ini persis seperti ghibah tradisional, namun diperkuat oleh kecepatan teknologi.
Muncul satu pertanyaan reflektif. Apakah seseorang yang sekadar membagikan ulang unggahan orang lain bisa dianggap ikut berghibah?
Baca Juga: Senyum yang Dicatat Malaikat: Rahasia Amal Ringan Favorit Nabi
Para ulama menyebut bahwa siapa pun yang menjadi perantara tersebarnya informasi keburukan termasuk dalam lingkaran dosa tersebut.
Dengan demikian, menekan tombol share atau repost tanpa memeriksa konteks bisa setara dengan ikut menyebarkan bulu ayam ke seluruh penjuru angin.
Media sosial memiliki cara kerja yang membuat pengguna tak sadar sedang berbuat dosa. Notifikasi yang terus menyala, algoritma yang memprioritaskan konten sensasional, dan budaya komentar spontan membuat orang mudah terbawa atmosfer kehebohan.
IFA.id mencatat bahwa tanpa kendali diri, seseorang bisa bergeser dari penonton pasif menjadi penyulut ghibah hanya dengan satu kalimat pendek.
Lalu bagaimana caranya menghindari ghibah digital di tengah dunia yang serba cepat ini? Jawabannya tidak selalu sederhana. Namun beberapa prinsip dasar yang diajarkan para ulama bisa menjadi pegangan.
Baca Juga: Ketika Senyum Menjadi Ibadah: Cara Islam Menguatkan Hati Lewat Gestur Sederhana
Pertama, menjaga kehormatan orang lain sama pentingnya dengan menjaga kehormatan diri sendiri. Kedua, diam lebih aman daripada bersuara jika informasi yang diketahui tidak memberikan manfaat.
Ketiga, memverifikasi sebelum membagikan informasi adalah langkah penting agar seseorang tidak terjerumus dalam penyebaran hoaks atau fitnah.