ibrah

Ghibah Digital: Dosa Lama di Era Media Sosial

Senin, 17 November 2025 | 15:49 WIB
IFA.id menggambarkan betapa cepatnya ghibah digital menyebar di media sosial, seperti bisikan yang berubah menjadi gelombang besar hanya dengan satu sentuhan layar. (Foto/Ilustrasi)

Satu unggahan, satu komentar, atau satu video reaksi dapat menjadi bukti betapa cepatnya reputasi seseorang hancur hanya karena satu kalimat yang seharusnya tidak disampaikan.

Baca Juga: Bahaya Ghibah yang Sering Diremehkan

Sebuah fenomena kecil bisa menjadi contoh. Dalam beberapa tahun terakhir, tagar-tagar yang memuat nama seseorang sering tiba-tiba viral. Mulai dari artis, tokoh publik, guru, bahkan rekan kerja biasa.

Ketika seseorang sedang tersandung isu, warganet berdatangan memberi komentar dan menambahkan narasi mereka sendiri.

Tidak sedikit komentar yang sudah melampaui batas, mengaitkan aib lama, menyebarkan informasi yang belum jelas, bahkan memaki atau merendahkan. IFA.id melihat bahwa pola ini persis seperti ghibah tradisional, namun diperkuat oleh kecepatan teknologi.

Muncul satu pertanyaan reflektif. Apakah seseorang yang sekadar membagikan ulang unggahan orang lain bisa dianggap ikut berghibah?

Baca Juga: Senyum yang Dicatat Malaikat: Rahasia Amal Ringan Favorit Nabi

Para ulama menyebut bahwa siapa pun yang menjadi perantara tersebarnya informasi keburukan termasuk dalam lingkaran dosa tersebut.

Dengan demikian, menekan tombol share atau repost tanpa memeriksa konteks bisa setara dengan ikut menyebarkan bulu ayam ke seluruh penjuru angin.

Media sosial memiliki cara kerja yang membuat pengguna tak sadar sedang berbuat dosa. Notifikasi yang terus menyala, algoritma yang memprioritaskan konten sensasional, dan budaya komentar spontan membuat orang mudah terbawa atmosfer kehebohan.

IFA.id mencatat bahwa tanpa kendali diri, seseorang bisa bergeser dari penonton pasif menjadi penyulut ghibah hanya dengan satu kalimat pendek.

Lalu bagaimana caranya menghindari ghibah digital di tengah dunia yang serba cepat ini? Jawabannya tidak selalu sederhana. Namun beberapa prinsip dasar yang diajarkan para ulama bisa menjadi pegangan.

Baca Juga: Ketika Senyum Menjadi Ibadah: Cara Islam Menguatkan Hati Lewat Gestur Sederhana

Pertama, menjaga kehormatan orang lain sama pentingnya dengan menjaga kehormatan diri sendiri. Kedua, diam lebih aman daripada bersuara jika informasi yang diketahui tidak memberikan manfaat.

Ketiga, memverifikasi sebelum membagikan informasi adalah langkah penting agar seseorang tidak terjerumus dalam penyebaran hoaks atau fitnah.

Halaman:

Tags

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB