IFA.id memahami bahwa media sosial juga memiliki sisi positif. Ia menyambungkan komunitas, membuka ruang diskusi, bahkan menjadi tempat saling mengingatkan. Namun ruang positif ini akan mudah rusak apabila budaya ghibah dibiarkan berkembang tanpa kendali.
Di sinilah pentingnya kesadaran diri. Seseorang perlu bertanya, apakah komentar yang hendak ditulis membantu memperbaiki situasi atau hanya menambah keruh keadaan? Jika tidak memberi nilai tambah, lebih baik dilewatkan saja.
Baca Juga: Menghapus Lelah, Mengundang Berkah: Kekuatan Senyum dalam Pandangan Ulama
Salah satu ulama besar pernah mengatakan bahwa lidah adalah bagian tubuh yang paling sering menyeret manusia ke dalam dosa. Di zaman digital, lidah telah berganti bentuk menjadi jari. Apa yang dulu diucapkan kini dituliskan.
Namun esensinya sama. Sebuah kalimat dapat membawa ketenangan, tetapi dapat pula menimbulkan luka yang dalam. Ghibah digital bekerja seperti luka yang tidak terlihat, tetapi tetap menyakitkan.
Fenomena lain yang marak belakangan ini adalah kanal-kanal konten yang mengulas kehidupan pribadi seseorang tanpa meminta izin. Ada yang mengaku ingin memberikan edukasi, tetapi kemasan kontennya penuh insinuasi yang mengarah pada penghakiman.
IFA.id menilai bahwa motif edukasi tidak menghalalkan aib. Jika seseorang membuka aib orang lain untuk meraih penonton, maka substansi ghibah tetap ada di dalamnya.
Baca Juga: Sunnah yang Mulai Jarang Diamalkan: Senyum sebagai Identitas Muslim Sejati
Sebagian orang berdalih bahwa media sosial adalah ruang publik sehingga apa pun boleh dibahas. Namun Islam memiliki standar moral yang tidak berubah meski konteksnya berganti. Menjaga kehormatan orang lain adalah bagian dari akhlak utama.
Inilah yang membuat konsep ghibah tetap relevan kapan pun. Ketika dunia berubah, prinsipnya tetap sama: apa pun yang merendahkan orang lain tanpa maslahat adalah pelanggaran etika.
Pada akhirnya, IFA.id mengajak setiap orang untuk kembali pada nilai dasar: kebersihan hati. Jika seseorang terbiasa mengendalikan bisikan yang mendorongnya menyebarkan kabar buruk, maka jari-jarinya pun akan lebih berhati-hati.
Ketika seseorang memilih menahan diri dari mengomentari kesalahan orang lain, ia sebenarnya sedang menjaga diri agar tidak terlibat dalam dosa yang dampaknya bisa lebih panjang daripada yang dibayangkan.
Baca Juga: Dari Wajah Cerah ke Hati Lapang: Mengapa Senyum Bisa Menjadi Sedekah Paling Indah
Ghibah digital tidak akan pernah hilang sepenuhnya. Namun setiap orang dapat berkontribusi mencegahnya.
Dengan menahan komentar yang tidak perlu, memverifikasi sebelum membagikan, dan menjaga niat agar tidak mengumbar aib, seseorang telah berperan melindungi ruang digital dari kerusakan moral.
Artikel Terkait
Konteks Historis Al-Qur’an: Kajian Kontekstual dan Pendekatan Kritis
Pemikiran Intelektual Transregional: Koneksi Islam Tengah Asia dan Asia Tenggara
Hukum Islam dan Modernitas: Kajian Maqāṣid Syariah dalam Isu Sosial Kontemporer
Senyum Pembuka Pintu Surga: Hikmah yang Sering Diremehkan dalam Kehidupan Muslim