Ia bersumber dari kisah agung Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, ketika perintah Allah datang melalui mimpi: menyembelih putranya tercinta.
Momen ini adalah simbol tertinggi dari ketaatan dan pengorbanan. Saat Nabi Ibrahim siap melaksanakan perintah itu, Allah menggantinya dengan seekor domba sebagai bentuk kasih sayang dan penghormatan atas keteguhan imannya.
Dari situlah lahir perintah qurban bagi umat Islam, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Kautsar ayat 2: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.”
Baca Juga: Riba Gaya Baru: Ketika Dosa Lama Bersembunyi di Balik Dunia Digital
IFA.id menyoroti, qurban bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah panggilan spiritual untuk menumbuhkan empati sosial. Daging qurban dibagikan kepada fakir miskin dan sesama, menjadi jembatan antara yang mampu dan yang kekurangan.
Di sinilah nilai sosial qurban begitu terasa: bukan hanya menyembelih hewan, tapi juga ego, keserakahan, dan rasa individualistik yang sering tumbuh di masyarakat modern.
Perbedaan yang Menjadi Makna
Meskipun sama-sama ibadah penyembelihan, aqiqah dan qurban berbeda dari banyak sisi mulai dari hukum, waktu pelaksanaan, niat, hingga penerima manfaatnya.
Aqiqah adalah sunnah muakkadah bagi orang tua, sementara qurban adalah ibadah yang disyariatkan bagi setiap Muslim yang mampu.
Baca Juga: Ekonomi Tumbuh, Iman Tersentuh: Menakar Bahaya Riba di Balik Sistem Finansial Global
Aqiqah hanya dilakukan sekali seumur hidup, khusus untuk anak yang baru lahir. Sedangkan qurban bisa dilakukan setiap tahun pada 10–13 Zulhijah. Hewan aqiqah umumnya kambing atau domba, sementara qurban bisa berupa kambing, sapi, atau unta.
Dari sisi niat pun berbeda. Niat aqiqah adalah bentuk syukur dan permohonan keselamatan bagi anak. Sedangkan qurban diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, meneladani ketaatan Nabi Ibrahim, serta berbagi kepada sesama.
IFA.id menekankan, perbedaan paling mencolok justru pada distribusi dagingnya. Dalam aqiqah, daging biasanya dimasak lalu dibagikan kepada kerabat dan tetangga, bahkan boleh dimakan oleh keluarga sendiri.
Sedangkan daging qurban disunahkan dibagikan dalam bentuk mentah kepada masyarakat luas, khususnya fakir miskin. Ini menunjukkan bagaimana Islam mengatur keseimbangan antara syukur pribadi dan solidaritas sosial.
Baca Juga: Makna Aqiqah: Lebih dari Sekadar Penyembelihan Kambing