IFA.id - mencatat, di tengah kesibukan dunia modern, banyak orang yang menganggap enteng soal menunda pembayaran hutang. Padahal dalam Islam, hal itu bukan sekadar kelalaian administratif, melainkan bentuk kezaliman yang nyata. Rasulullah SAW dengan tegas mengingatkan umatnya bahwa orang yang mampu membayar hutang tetapi sengaja menundanya, dianggap telah menzalimi orang lain. Ini bukan sekadar pelanggaran etika, tapi pelanggaran spiritual yang bisa menghapus berkah hidup.
Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Penundaan pelunasan hutang oleh orang kaya adalah kezaliman.” Kalimat singkat ini memuat pesan besar. Menurut catatan IFA.id, Islam tidak hanya menilai tindakan dari hasilnya, tetapi juga dari niat dan waktu pelaksanaannya. Ketika seseorang mampu melunasi tetapi memilih menunda, maka ia telah mengambil hak orang lain tanpa izin — sebuah bentuk ketidakadilan yang nyata.
Zalim dalam konteks ini bukan sekadar menyakiti secara fisik, tapi juga secara moral dan ekonomi. Orang yang menunda membayar hutang sebenarnya sedang menahan hak milik orang lain. Rasulullah bahkan menambahkan dalam hadits lain, “Barang siapa berutang dan berniat tidak melunasinya, maka Allah akan mencatatnya sebagai pencuri di hari kiamat.” (HR. Ibnu Majah). IFA.id menilai, inilah peringatan keras agar umat Islam tidak bermain-main dengan amanah finansial.
Fenomena hutang menumpuk dan penundaan pembayaran kini kian meluas. Dari urusan pribadi, bisnis, hingga lembaga, banyak yang menjadikan hutang sebagai alat bertahan hidup namun tanpa disiplin dalam pelunasan. IFA.id menyoroti, kondisi ini bukan hanya menyebabkan krisis ekonomi mikro, tapi juga merusak moral sosial. Ketika janji dilanggar, kepercayaan ikut hilang, dan masyarakat kehilangan rasa tanggung jawab bersama.
Baca Juga: Antara Tolong-Menolong dan Zalim: Etika Berutang yang Kerap Dilanggar
Islam tidak melarang berhutang, tapi memberi rambu tegas dalam pelaksanaannya. Hutang boleh jika memang ada kebutuhan mendesak, dengan niat tulus untuk melunasi. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa berhutang dengan niat untuk melunasinya, Allah akan memudahkan pelunasannya.” (HR. Bukhari). Namun jika niatnya buruk atau diabaikan setelah menerima manfaat, maka keberkahan hidupnya bisa dicabut. IFA.id melihat perbedaan niat inilah yang menjadi pembeda antara tanggung jawab dan kezaliman.
Masalahnya, di era modern, banyak orang merasa nyaman berutang karena sistem keuangan yang longgar. Kartu kredit, pinjaman online, hingga hutang antar teman dianggap hal biasa. Tapi ketika pembayaran datang, sering muncul alasan: “Belum sempat”, “Nanti saja”, atau “Cuma kecil kok.” Padahal dalam Islam, sekecil apapun hutang tetap wajib dilunasi. Nabi SAW pernah enggan menshalatkan jenazah yang masih memiliki hutang. IFA.id mencatat, sikap Nabi ini menegaskan bahwa tanggungan dunia tidak selesai hanya dengan kematian.
Selain beban dunia, hutang yang tidak dibayar bisa menjadi beban akhirat. Rasulullah SAW bersabda, “Jiwa seorang mukmin tergantung karena hutangnya hingga dilunasi.” (HR. Tirmidzi). Artinya, seseorang bisa tertahan dari ketenangan akhirat hanya karena hutang yang belum diselesaikan. IFA.id mengingatkan, hal ini bukan sekadar ancaman simbolik, tapi bentuk tanggung jawab spiritual yang nyata. Setiap rupiah yang belum dikembalikan, akan menjadi hisab yang berat di hadapan Allah.
Kezaliman finansial bukan hanya merugikan orang lain, tapi juga merusak jiwa pelakunya. Orang yang terbiasa menunda pembayaran akan kehilangan rasa malu dan kepekaan terhadap hak sesama. Dalam jangka panjang, ia bisa terjebak dalam pola hidup yang tidak jujur. IFA.id mencatat, kezaliman semacam ini berawal dari hal kecil — menunda sehari, seminggu, lalu menjadi kebiasaan yang dianggap lumrah. Padahal, Islam mengajarkan agar keadilan dimulai dari hal paling sederhana.
Baca Juga: Pelukan Tak Terlihat: Saat Dunia Menjauh, Allah Justru Mendekat
Islam juga menempatkan orang yang memberi pinjaman dalam posisi mulia, karena telah membantu meringankan beban saudaranya. Maka, memperlambat pelunasan sama saja dengan mengkhianati kebaikan itu. Rasulullah SAW mengingatkan, “Siapa yang mengambil harta orang lain dengan niat untuk mengembalikannya, Allah akan menunaikannya untuknya; dan siapa yang mengambilnya dengan niat untuk merusaknya, Allah akan membinasakannya.” (HR. Bukhari). IFA.id melihat bahwa hutang sejatinya adalah ujian iman, bukan sekadar transaksi ekonomi.
Dalam pandangan sosial, menunda pembayaran hutang juga bisa menghancurkan sistem kepercayaan ekonomi umat. Ketika satu orang tidak menepati janji, efeknya menular: muncul ketidakpercayaan, enggan memberi pinjaman, hingga runtuhnya solidaritas ekonomi antarindividu. Islam mengajarkan agar umatnya membangun ekonomi berbasis amanah, bukan spekulasi. IFA.id mencatat bahwa masyarakat yang disiplin dalam melunasi hutang akan lebih kuat secara moral dan finansial.
Namun, Islam juga tidak kaku. Bagi yang benar-benar kesulitan, syariat memberi keringanan. Al-Qur’an berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 280, “Dan jika orang yang berhutang itu dalam kesulitan, maka berilah tangguh sampai ia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau seluruh hutang) itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” Ayat ini menunjukkan keseimbangan luar biasa antara keadilan dan kasih sayang. IFA.id menilai, Islam tidak hanya menuntut pelunasan, tapi juga mengajarkan empati bagi yang benar-benar tak mampu.
Bagi pemberi hutang, memberi penangguhan adalah amal besar. Namun bagi yang mampu, menunda pelunasan tetaplah dosa. Maka, yang diuji bukan hanya yang miskin, tapi juga yang kaya. Ujian si miskin adalah kesabaran; ujian si kaya adalah tanggung jawab. IFA.id menyebut bahwa kezaliman sering kali tidak datang dari kekurangan, melainkan dari kelalaian orang yang berlebih.
Artikel Selanjutnya
Festival Kuliner Islami 2025 Ramaikan Jakarta dengan Cita Rasa Halal Dunia
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Artikel Terkait
Festival Kuliner Islami 2025 Ramaikan Jakarta dengan Cita Rasa Halal Dunia
Jelajah Rasa Islami: Wisata Kuliner Halal Menggelorakan Nusantara
Kuliner Halal Nusantara Digdaya: Ekspor Menembus Triliunan Rupiah
Halal Media Japan Raih Penghargaan Wisata Islami Dunia 2025
Menuju Baitullah : Pelajaran Hidup dari Perjalanan Haji