IFA.id - Ada masa ketika hidup terasa sunyi. Dunia yang dulu tampak ramah tiba-tiba berubah asing.
Orang-orang yang pernah hadir kini perlahan menjauh. Senyum yang dulu menghangatkan kini hanya tinggal kenangan. Dalam kesepian itu, hati mulai bertanya: “Siapa yang masih ada untukku?”
Lalu, di antara isak tangis yang tak terdengar oleh siapa pun, datanglah sesuatu yang tak bisa dijelaskan.
Sebuah ketenangan halus, lembut, dan menenangkan hati yang sempat retak. Itu bukan dari manusia. Itu dari Allah. Sebuah pelukan tak terlihat, tapi terasa nyata hingga ke dasar jiwa.
Baca Juga: Rasa Sakit yang Membimbing Pulang ke Allah
Ketika Dunia Membelakangi, Allah Mendekat Tanpa Suara
Setiap manusia pasti pernah merasa ditinggalkan. Tidak semua perpisahan memiliki penjelasan, tidak semua kehilangan disertai kata pamit. Ada kalanya dunia menjauh begitu saja, meninggalkan kita dalam kesunyian yang dingin.
Namun, di balik jarak itu, justru Allah mendekat.
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaf: 16)
Ayat ini bukan sekadar penghiburan, melainkan kenyataan yang lembut namun dalam: bahwa di saat semua menjauh, Allah tidak pernah pergi. Dia mendekat, bukan untuk menanyakan alasan tangismu, tapi untuk memeluk hatimu yang lelah.
Pelukan-Nya tidak berupa tangan yang merangkul, tapi berupa ketenangan yang tiba-tiba hadir setelah tangis panjang.
Baca Juga: Bukan Hanya Dibaca, Tapi Dihidupkan: Spirit Qur’ani yang Membentuk Karakter Muslim Sejati
Kadang dalam bentuk seseorang yang datang membawa nasihat tanpa diminta, kadang dalam bentuk mimpi yang menenangkan, atau bahkan hanya dalam bentuk udara pagi yang terasa lebih lembut dari biasanya.
Tangisan yang Didengar Langit
Artikel Terkait
Sementara di Dunia, Selamanya di Akhirat: Menata Arah Hidup
Dunia Bukan Tujuan Akhir, Tapi Jalan Pulang yang Harus Ditempuh