Seorang pengembara tidak membangun istana di tengah jalan. Ia beristirahat secukupnya, lalu melanjutkan perjalanan ke kampung sejatinya akhirat.
Baca Juga: Kerja Keras dengan Hati Lillah: Tren Baru Profesional Muslim di Era Digital
Namun selama di jalan, ia tetap menebar kebaikan. Ia menolong sesama pengembara, ia tak sombong dengan bekalnya, dan ia bersyukur untuk setiap langkah.
Hidup sementara ini justru berharga karena terbatas. Keterbatasanlah yang membuat manusia belajar menghargai waktu, menata niat, dan mencintai dengan tulus tanpa menunggu sempurna.
6. Tanda Orang yang Menyadari Hidupnya Sementara
IFA.id merangkum beberapa ciri orang yang benar-benar memahami bahwa dunia ini bukan tempat tinggal abadi:
-
Ia mudah memaafkan, karena sadar waktu hidup terlalu singkat untuk menyimpan dendam.
-
Ia ringan memberi, karena tahu semua harta hanya titipan.
-
Ia rendah hati, karena sadar setiap manusia akan kembali dalam tanah yang sama.
-
Ia menjaga waktu, karena tahu tak ada satu detik pun yang bisa diulang.
Baca Juga: Dari Sawah ke Kota: Bagaimana Hujan Menjadi Sumber Kehidupan
Kesadaran ini tidak membuatnya malas mengejar dunia, justru membuatnya lebih fokus.
Ia bekerja dengan niat ibadah, berkeluarga dengan kasih, beramal dengan tulus karena semua akan ia bawa pulang sebagai bekal, bukan ditinggal di dunia.
7. Saat Dunia Mengecewakan, Kembalilah pada Kesadaran Ini
Ada masa ketika semua rencana gagal.
Ada waktu ketika dunia seperti berpaling, rezeki seret, hati sempit, teman menjauh.
Saat itu, kesadaran bahwa dunia sementara menjadi obat paling mujarab.
Sebab ketika dunia terasa runtuh, sesungguhnya yang roboh hanyalah hal yang memang tak abadi. Yang sejati justru sedang dibangun di dalam hati: keteguhan, keikhlasan, dan pengharapan pada Allah.