IFA.id - Pernahkah ada momen ketika semua terasa terlalu cepat berlalu?
Satu hari kita tertawa, esoknya kita kehilangan. Satu waktu kita berlari mengejar dunia, lalu tiba-tiba sadar: dunia justru menjauh, tak pernah bisa digenggam sepenuhnya.
Begitulah hidup singkat, fana, dan sering kali mengecoh arah hati.
IFA.id merangkum sebuah renungan sederhana: untuk apa sebenarnya manusia mengejar sesuatu yang tidak abadi?
1. Dunia: Tempat Singgah, Bukan Tujuan Akhir
Ada sebuah pepatah Arab yang indah:
"Ad-dunya mazra’atul-akhirah" dunia adalah ladang untuk akhirat.
Kita hidup bukan untuk tinggal selamanya di sini, tapi untuk menanam. Setiap kata, tindakan, dan niat adalah benih yang kelak tumbuh di tanah keabadian. Namun, sering kali manusia lupa bahwa ladang ini hanya sementara.
Baca Juga: Bekerja Tanpa Mengeluh: Jalan Sunyi Para Pekerja yang Menyebut Kantornya Sebagai Mihrab
Kita sibuk membangun istana pasir di tepi pantai, padahal ombak waktu akan datang menggulung semuanya.
IFA.id mencatat, fenomena ini terlihat jelas di zaman modern. Orang berlomba-lomba mempercantik tampilan luar: rumah, karier, media sosial. Tapi semakin tinggi bangunan dunia itu, sering kali semakin kosong ruang di dalam dada.
2. Mengapa Kita Terjebak dalam Pengejaran yang Tak Berujung
Kehidupan modern menciptakan ilusi “harus lebih dari yang lain”.
Lebih kaya, lebih populer, lebih cepat sukses.
Namun, apakah benar itu makna hidup?
Sebuah penelitian dari Harvard Study of Adult Development studi terpanjang tentang kebahagiaan manusia menemukan bahwa bukan harta atau ketenaran yang membuat hidup bahagia, melainkan hubungan yang bermakna dan hati yang tenang.
Baca Juga: Dari Kantor ke Masjid: Cerita Nyata Profesional yang Menemukan Makna Ibadah dalam Pekerjaan
Dan ketenangan itu, kata banyak ulama, hanya muncul saat manusia kembali mengingat bahwa hidup ini sementara.