ibrah

Masa Depan Kesetaraan Gender dalam Tradisi Islam: Peluang dan Jalan ke Depan

Jumat, 31 Oktober 2025 | 12:42 WIB
Ulama perempuan berdiskusi dalam forum KUPI II Jepara, 2022 — simbol kebangkitan suara perempuan dalam menafsirkan keadilan Islam. (Foto/Ilustrasi)

IFA.id - Pernah ada masa ketika suara perempuan dalam diskusi agama hanya terdengar samar, tertutup oleh hiruk pikuk tafsir yang didominasi laki-laki.

Namun kini, sebuah perubahan sedang tumbuh perlahan tapi pasti. Dari ruang kelas pesantren hingga panggung internasional, wacana tentang kesetaraan gender dalam Islam kembali hidup, menggugah kesadaran baru: bahwa Islam tak pernah menolak keadilan.

IFA.id mencatat, dalam dua dekade terakhir, semakin banyak ulama perempuan, cendekiawan muslimah, dan aktivis yang berani mengajukan pertanyaan lama dengan cara baru: Bagaimana Islam bisa kembali kepada semangat awalnya yang menegakkan keadilan bagi semua manusia, tanpa kecuali?

Islam dan Keadilan Sebagai Pondasi

Jika menelusuri Al-Qur’an, kesetaraan bukanlah konsep impor dari Barat. Prinsip itu justru tertanam kuat dalam nilai keadilan (‘adl) dan kemanusiaan (‘insaniyyah). Allah berfirman dalam QS. Al-Hujurat:13,

Baca Juga: Ketika Islam Membuka Ruang: Perempuan dan Kepemimpinan di Era Modern

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal.”

Ayat ini menjadi dasar penting: Islam memandang laki-laki dan perempuan sebagai mitra dalam kehidupan, bukan pesaing dalam kekuasaan. Mereka berbeda secara biologis, namun sejajar dalam nilai dan tanggung jawab.

Dalam sejarah awal Islam, perempuan memiliki posisi aktif dalam kehidupan sosial dan keagamaan. Khadijah binti Khuwailid, pengusaha sukses yang mendukung perjuangan Nabi.

Aisyah r.a., cendekia yang menjadi rujukan ilmu hadits. Ummu Salamah, sahabat yang berani menyampaikan pendapat kepada Rasulullah SAW dan dihargai atas kecerdasannya. Mereka bukan simbol sekadar; mereka pelaku sejarah yang nyata.

Baca Juga: Memahami Kesetaraan Gender dalam Islam: Antara Teks dan Konteks

Antara Teks dan Tafsir: Sumber Perbedaan Pemahaman

Kesetaraan gender sering kali tersandung bukan pada teks wahyu, tetapi pada tafsirnya. Banyak ulama modern, seperti Prof. Amina Wadud, Riffat Hassan, dan Fatima Mernissi, mengajukan pendekatan baru terhadap teks Al-Qur’an dengan membaca ulang konteks sejarah dan sosial.

Halaman:

Tags

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB