IFA.id - Ada seorang pemuda di sudut pesantren tua di Jawa Tengah. Setiap pagi, sebelum ayam berkokok, ia sudah duduk bersila di bawah lampu minyak redup, menulis ulang pelajaran yang ia dengar malam sebelumnya.
Tangannya gemetar karena dingin, tapi matanya menyala karena semangat. Namanya Ahmad dan bagi banyak orang, ia hanyalah santri biasa. Namun di mata Allah, setiap goresan penanya adalah ibadah.
IFA.id mencatat kisah ini bukan untuk sekadar nostalgia pesantren, tetapi untuk mengingatkan bahwa menuntut ilmu bukan perkara duniawi semata. Ia adalah ibadah yang membuka pintu surga, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
"Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)
Baca Juga: Sedekah di Hari Jumat: Pintu Keberkahan yang Tak Pernah Tertutup
Jalan Sunyi Para Pencari Ilmu
Menuntut ilmu, dalam pandangan Islam, bukan hanya aktivitas intelektual. Ia adalah perjalanan spiritual. Ketika seseorang duduk bersila mendengarkan guru, ketika mencatat dengan niat mencari ridha Allah, semua itu bernilai ibadah.
Ahmad memahami hal itu sejak pertama kali ia meninggalkan rumah. Ia tak punya banyak uang, hanya selembar sarung, kitab bekas, dan doa ibunya. Tapi dalam kesederhanaan itulah tumbuh tekad kuat: belajar agar hidupnya bermanfaat.
Di pesantren, setiap subuh ia menimba ilmu tafsir, siang ia belajar fikih, malam ia menyalin kembali catatannya hingga kertasnya penuh coretan tinta.
Tak jarang, ia harus menahan lapar karena uang kiriman belum datang. Namun bibirnya tetap berzikir sebab ia percaya, lapar karena ilmu lebih mulia daripada kenyang tanpa makna.
Baca Juga: Waktu Mustajab di Hari Jumat: Saat Doa Menembus Langit
IFA.id Mengulas: Ilmu yang Menjadi Jalan Ibadah
Dalam pandangan ulama, menuntut ilmu menjadi ibadah karena dua hal: niat dan manfaat.
Artikel Terkait
Cahaya di Waktu Subuh: Sholat Sunnah Fajr dan Rahasia Perlindungan Sepanjang Hari
Kedamaian di Tengah Malam: Rahasia Sholat Sunnah Tahajud dalam Menyembuhkan Jiwa