Kamis, 4 Juni 2026

Memahami Kesetaraan Gender dalam Islam: Antara Teks dan Konteks

- Jumat, 31 Oktober 2025 | 10:08 WIB
Kesetaraan bukan tentang siapa yang di atas, tapi siapa yang berjalan seimbang menuju ridha Allah (Foto/Ilustrasi)
Kesetaraan bukan tentang siapa yang di atas, tapi siapa yang berjalan seimbang menuju ridha Allah (Foto/Ilustrasi)

IFA.id - Pernah ada masa ketika kata “kesetaraan gender” dianggap asing dalam perbincangan umat. Sebagian menolaknya mentah-mentah karena terdengar terlalu “Barat”, sebagian lagi menyambutnya dengan semangat perubahan.

Namun, bagaimana bila ternyata akar kesetaraan itu sudah tertanam dalam ajaran Islam sendiri?

IFA.id menelusuri jejak panjang pemahaman gender dalam Islam dari ayat-ayat Al-Qur’an yang menegaskan kemuliaan manusia tanpa membeda jenis kelamin,

hingga tafsir kontemporer yang menuntun pada kesadaran baru: bahwa adil tidak selalu berarti sama, dan setara tidak selalu identik dengan seragam.

Baca Juga: Guru Sebagai Jalan Pahala: Mengajar dan Belajar dalam Timbangan Ibadah

Ketika Al-Qur’an Menyapa Tanpa Diskriminasi

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan…” (QS. Al-Hujurat: 13).

Ayat ini sering dikutip, tapi jarang direnungkan maknanya secara utuh. Dalam kalimat sederhana itu, Allah menegaskan kesetaraan eksistensial manusia. Bukan jenis kelamin yang menentukan kemuliaan, melainkan ketakwaan.

Para mufasir klasik seperti Al-Tabari menafsirkan ayat tersebut sebagai bentuk pengingat bahwa asal-usul manusia sama sehingga tak boleh ada superioritas jenis kelamin.

Sementara mufasir kontemporer seperti Amina Wadud dan Asma Barlas menambahkan bahwa pesan universal itu seharusnya mengalir ke seluruh sistem sosial Islam.

Baca Juga: Adab Sebelum Ilmu: Jalan Menuju Keberkahan Belajar yang Hakiki

Tafsir Kontekstual: Dari Zaman Rasul ke Dunia Modern

IFA.id mencatat, dalam sejarahnya, Islam datang ke masyarakat Arab yang patriarkal. Perempuan nyaris tak punya hak waris, tak punya suara, bahkan bayi perempuan dikubur hidup-hidup. Maka ketika Islam datang membawa hak waris, hak memilih pasangan, dan hak memiliki harta — itu revolusi besar pada zamannya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Terpopuler

X