IFA.id - Pernah terpikir bagaimana para santri zaman sekarang menuntut ilmu tanpa harus duduk di serambi masjid berjam-jam, membuka kitab kuning dari kulit ke kulit, tapi tetap bisa menjaga nilai ibadah di baliknya?
IFA.id mencatat, kini dunia pesantren dan teknologi sudah saling bersentuhan lebih erat dari sebelumnya. Namun di tengah kemudahan akses ilmu digital, muncul satu pertanyaan besar: apakah keberkahan ilmu masih bisa diraih di tengah layar dan sinyal?
Ketika “Ngaji” Pindah ke Layar
Dulu, ilmu identik dengan guru di depan kelas, kitab di pangkuan, dan santri di bawah sorot lampu minyak. Kini, cukup satu klik di gawai, ribuan ceramah, tafsir, hingga kitab klasik bisa diakses gratis.
Namun di balik kemudahan itu, para kiai mengingatkan satu hal: jangan sampai ilmu kehilangan adabnya.
Baca Juga: Khotbah Jumat: Cahaya Ilmu yang Menyentuh Hati Umat
Kiai Anwar Zahid dalam salah satu ceramahnya berkata, “Zaman boleh berubah, tapi adab menuntut ilmu tidak boleh hilang. Ilmu tanpa adab hanyalah kumpulan informasi, bukan cahaya.”
Kutipan ini menegaskan bahwa menuntut ilmu di era digital tetaplah ibadah selama niatnya lurus dan caranya benar. Teknologi hanyalah alat, bukan pengganti keberkahan.
IFA.id Mencatat: Ilmu Digital, Berkah Analog
Fenomena santri digital kini semakin nyata. Dari pelajar pesantren yang ikut kelas online hingga masyarakat umum yang belajar tafsir di YouTube. Ilmu kini menembus ruang dan waktu, bahkan sampai ke pelosok yang dulu sulit dijangkau.
Menurut data Kementerian Agama (2024), lebih dari 60% pesantren di Indonesia kini sudah menerapkan sistem pembelajaran berbasis digital entah melalui e-learning internal atau kolaborasi dengan universitas Islam negeri.
Baca Juga: Langkah Seribu Menuju Masjid: Rahasia Pahala Shalat Jumat
Namun, IFA.id menemukan tantangan baru: bagaimana menjaga ruh keilmuan di tengah arus informasi yang begitu cepat?
Artikel Terkait
Kedamaian Jiwa dalam Sujud: Manfaat Sholat Tahajud bagi Ketenangan Hati
Dua Rakaat Pembuka Rezeki: Sholat Dhuha Sebagai Energi Positif Kehidupan