IFA.id - Pernahkah ada yang merasa hidupnya makin berat padahal hartanya terus bertambah? IFA.id menemukan satu sebab yang sering diabaikan: riba. Bukan hanya istilah ekonomi, tapi juga persoalan moral dan spiritual yang berakar dalam ajaran Islam.
Riba dalam Al-Qur’an: Larangan yang Tak Bisa Ditawar
Dalam Al-Qur’an, Allah menyinggung riba dengan nada yang jarang digunakan untuk dosa lain. “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al-Baqarah: 275). Kalimat itu tegas, tanpa ruang abu-abu.
Larangan riba bukan sekadar hukum, tapi sebuah peringatan bahwa sistem yang berbasis keserakahan akan menghancurkan tatanan sosial.
IFA.id mencatat, para mufassir seperti Ibn Katsir dan Al-Qurthubi menafsirkan ayat ini sebagai “peringatan keras yang setara dengan peringatan kepada kaum yang menolak kenabian.”
Baca Juga: Gaya Hidup Halal Jadi Pilihan Utama Muslim Urban
Sebegitu seriusnya, karena riba merusak inti keadilan ekonomi: keseimbangan antara risiko, usaha, dan keuntungan.
Riba Bukan Sekadar Bunga
Sebagian masih beranggapan bahwa riba hanya sebatas bunga bank. Padahal, Al-Qur’an menggunakan istilah riba dalam arti yang lebih luas: setiap tambahan yang tidak disertai nilai tambah nyata.
Misalnya, seseorang meminjamkan uang dan meminta kembali lebih dari yang dipinjamkan hanya karena waktu. Tidak ada produksi, tidak ada kerja, hanya keuntungan sepihak.
Itulah yang dimaksud dengan riba nasi’ah riba karena penundaan waktu yang pada masa jahiliyah menjadi praktik umum.
Baca Juga: Ekonomi Tanpa Riba: Mungkinkah Dunia Berjalan Adil?
Sementara riba fadhl adalah kelebihan dalam pertukaran barang sejenis yang tidak seimbang. Keduanya dilarang karena menciptakan ketimpangan dan eksploitasi ekonomi.