IFA.id - Pernahkah terlintas pertanyaan sederhana tapi menggigit ini: “Bisakah dunia berjalan tanpa riba?”
Pertanyaan itu sering muncul di kepala banyak orang, terutama saat melihat realitas ekonomi yang dikuasai bunga, pinjaman, dan hutang. IFA.id mencoba menjawabnya dari dua sisi: keyakinan dan kenyataan.
1. Riba Bukan Sekadar Masalah Agama
Dalam Islam, larangan riba bukan sekadar aturan keagamaan, tapi juga bentuk perlindungan sosial. Riba dilarang bukan karena Allah melarang begitu saja, tapi karena ia menghancurkan keseimbangan ekonomi dan kemanusiaan.
Bayangkan seseorang meminjam uang untuk usaha kecil. Namun, karena bunga yang menumpuk, modal yang seharusnya tumbuh justru habis untuk membayar cicilan. Alih-alih keluar dari kesulitan, ia malah semakin terjerat.
Baca Juga: Jika Riba Itu Dosa Besar, Mengapa Masih Banyak yang Menganggap Ringan?
Riba menciptakan sistem ekonomi yang menindas di mana yang kaya makin kaya, dan yang miskin makin terpuruk. Islam melihat ketimpangan itu sebagai kezaliman. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 279, Allah menegaskan:
“Jika kamu tidak meninggalkan riba, maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.”
Keras? Ya, tapi di balik ketegasan itu ada rahmat. Larangan ini bukan semata ancaman, tapi peringatan bahwa sistem berbasis riba adalah bom waktu sosial dan moral.
2. Dunia Modern: Ketika Riba Jadi Napas Ekonomi
Mari jujur, hampir semua sektor keuangan dunia berputar dengan bunga: bank, kartu kredit, obligasi, bahkan pinjaman pendidikan.
Baca Juga: Umrah Jadi Tren Healing Rohani Generasi Muda Muslim
Sistem riba seakan menjadi “oksigen” bagi perekonomian global modern. Tanpa bunga, banyak pihak berasumsi sistem ekonomi akan lumpuh. Tapi benarkah begitu?
Artikel Terkait
Ikhlas dalam Kebaikan: Jalan Menuju Ketentraman Jiwa
Kebaikan yang Menular: Saat Hati Menjadi Sumber Inspirasi