Mengapa Allah Mengharamkan Riba?
IFA.id merangkum tiga alasan besar di balik larangan ini: moral, sosial, dan spiritual.
-
Moral:
Riba menumbuhkan keserakahan dan mengikis empati. Orang yang memberi pinjaman berharap keuntungan tanpa peduli penderitaan orang lain. Akhlak seperti ini menumbuhkan sifat egois yang bertolak belakang dengan nilai kasih dalam Islam. -
Sosial:
Riba memperlebar jurang kaya dan miskin. Dalam sistem berbunga, yang miskin makin tertekan oleh beban utang, sementara yang kaya semakin menumpuk kekayaan. Al-Qur’an menghendaki distribusi keadilan, bukan eksploitasi. -
Spiritual:
Riba menumbuhkan ketergantungan pada harta dan mengikis keberkahan. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Riba memiliki tujuh puluh tiga pintu, yang paling ringan seperti berzina dengan ibu kandung sendiri.” (HR. Ibnu Majah).
Hadis ini menggambarkan betapa riba merusak hubungan spiritual manusia dengan Allah.Dampak Nyata Riba di Dunia Modern
Baca Juga: Jika Riba Itu Dosa Besar, Mengapa Masih Banyak yang Menganggap Ringan?
IFA.id menemukan bahwa krisis keuangan dunia dari 1998 hingga 2008 banyak dipicu oleh sistem keuangan berbasis bunga tinggi dan spekulasi.
Ketika uang dijadikan komoditas tanpa nilai nyata, gelembung ekonomi mudah pecah. Inilah bentuk modern dari riba: keuntungan tanpa produktivitas.
Bahkan beberapa ekonom non-muslim seperti John Maynard Keynes dan Joseph Stiglitz pernah menyinggung bahwa “bunga tinggi memicu ketimpangan struktural dan memperlambat pertumbuhan ekonomi riil.”
Jika para ekonom dunia saja menyadari bahayanya, tak heran jika Al-Qur’an sudah mengingatkan jauh lebih awal.
Baca Juga: Umrah Jadi Tren Healing Rohani Generasi Muda Muslim
Riba dan Ketenangan Jiwa
Riba bukan hanya soal angka di layar rekening. Ia menyentuh hati. Banyak yang hidup dalam lilitan utang berbunga merasa kehilangan kedamaian.
Hidup mereka serba mengejar bukan menikmati. Padahal, Islam mengajarkan keseimbangan: mencari rezeki dengan halal, menghindari yang haram, dan berlapang dada atas rezeki yang datang.
IFA.id sering mendengar kisah pelaku usaha kecil yang beralih ke sistem tanpa bunga. Mereka memang kehilangan “akses cepat ke modal”, tapi justru menemukan ketenangan. Rezeki terasa berkah, dan relasi sosial menjadi lebih hangat.
Artikel Terkait
Pesantren Kilat Kreatif: Belajar Agama Lewat Drama, Film, dan Podcast
Kopi, Ketelitian, dan Ketenangan: Perjalanan Ammar FH Menuju Juara Utama Coffee Brewing Competition 2025