ibrah

Santri Turun ke Jalan: Antara Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Batas Adab Islami

Senin, 20 Oktober 2025 | 14:03 WIB
Ketika santri turun ke jalan bukan untuk marah, tapi untuk mengingatkan dengan cinta menegakkan amar ma’ruf, menjaga adab, dan menyiram panas dunia dengan kesejukan iman. (Foto/Ilustrasi)

IFA.id - Di tengah hiruk pikuk dunia modern, suara santri kini tidak hanya bergema di dalam langgar, mushala, atau ruang ngaji kitab kuning.

Mereka juga mulai hadir di jalanan, di tengah masyarakat luas, menyuarakan nurani, menuntut keadilan, dan mengingatkan bangsa pada nilai-nilai moral.

Fenomena “santri turun ke jalan” ini menjadi cermin bahwa pesantren bukanlah menara gading yang terpisah dari realitas sosial, melainkan bagian hidup dari denyut nadi umat.

Namun, muncul pertanyaan penting: bagaimana Islam memandang demonstrasi atau aksi turun ke jalan? Apakah itu bentuk amar ma’ruf nahi munkar menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran atau justru melanggar adab perjuangan dalam Islam?

Baca Juga: Santri Bergerak, Indonesia Bermartabat: Semangat Baru di Hari Santri 2025

Santri sejatinya dibentuk untuk menjadi insan yang berilmu sekaligus beradab. Dalam tradisi pesantren, seorang kiai selalu menanamkan prinsip,

“Ngaji iku ora mung golek pinter, tapi golek bener.” Artinya, tujuan belajar bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi benar dalam niat dan tindakan.

Ketika santri ikut turun ke jalan, sejatinya mereka sedang membawa semangat amar ma’ruf nahi munkar.

Namun, ruh gerakan ini harus dijaga agar tidak berubah menjadi amar ghadhab seruan kemarahan tanpa kendali. Karena dalam Islam, niat menentukan nilai. Rasulullah ﷺ bersabda “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, aksi santri bukan untuk menentang otoritas atau mencari sensasi publik, melainkan sebagai bentuk kasih sayang terhadap negeri dan umat. Ia menjadi nada cinta, bukan teriakan amarah.

Baca Juga: Dari Pagi yang Berkah di Pesantren: Cahaya Santri Menyapa Negeri

Ulama klasik maupun kontemporer memiliki pandangan yang beragam tentang demonstrasi. Sebagian membolehkan dengan syarat: tidak melanggar syariat, tidak menimbulkan kerusakan (fasad), serta bertujuan menegakkan kebenaran dengan cara yang santun.

Syaikh Yusuf al-Qaradawi misalnya, dalam Fiqh al-Jihad, menjelaskan bahwa “demonstrasi damai adalah bentuk ekspresi yang bisa termasuk amar ma’ruf nahi munkar jika dilakukan tanpa kekerasan dan tanpa mencaci.”

Halaman:

Tags

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB