Kamis, 4 Juni 2026

Santri Turun ke Jalan: Antara Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Batas Adab Islami

- Senin, 20 Oktober 2025 | 14:03 WIB
Ketika santri turun ke jalan bukan untuk marah, tapi untuk mengingatkan dengan cinta  menegakkan amar ma’ruf, menjaga adab, dan menyiram panas dunia dengan kesejukan iman. (Foto/Ilustrasi)
Ketika santri turun ke jalan bukan untuk marah, tapi untuk mengingatkan dengan cinta menegakkan amar ma’ruf, menjaga adab, dan menyiram panas dunia dengan kesejukan iman. (Foto/Ilustrasi)

Namun, kiai-kiai pesantren menambahkan satu dimensi penting yang khas: adab.
Kiai Hasyim Asy’ari pernah berpesan, “Berjuanglah dengan ilmu dan adab. Karena tanpa adab, perjuangan berubah menjadi perusakan.”

Artinya, seorang santri boleh menyampaikan aspirasi, tapi tetap menjaga tutur, wajah, dan hati. Tidak ada kata kasar, tidak ada benci, tidak ada fitnah. Karena santri bukan pendemo biasa, melainkan pendakwah berjiwa tenang.

Baca Juga: Lantunan Shalawat dan Doa Bersatu: Merayakan Hari Santri dengan Kedamaian

Pesantren selalu dikenal sebagai tempat tumbuhnya kesabaran, ketenangan, dan kebijaksanaan. Ketika dunia luar ramai dengan konflik, santri justru diharapkan menjadi air di tengah api penyejuk yang menenangkan suasana.

Oleh sebab itu, santri yang turun ke jalan sebaiknya membawa simbol kedamaian: tasbih di tangan, doa di bibir, dan hikmah di dada. Mereka tidak menuntut dengan teriakan, tapi dengan keteladanan dan doa.

Kiai sepuh sering berpesan, “Kalau kamu ingin mengubah dunia, ubahlah dulu dirimu dengan zikir.”

Artinya, perubahan sosial tidak selalu harus lewat benturan fisik, tapi bisa lewat kekuatan batin. Di sinilah makna terdalam santri berdemo: menegakkan amar ma’ruf dengan doa, mendidik masyarakat dengan ketenangan, bukan kemarahan.

Baca Juga: Santri Milenial, Pejuang Digital: Merekam Spirit Hari Santri di Era Teknologi

Di era digital, banyak “demo” tidak lagi di jalanan, tapi di dunia maya. Santri digital kini bisa menyuarakan aspirasi melalui tulisan, video, atau konten dakwah yang santun.
Kekuatan pena dan lisan jauh lebih tajam daripada teriakan.

Kita bisa belajar dari Rasulullah ﷺ yang menghadapi kebatilan dengan kelembutan hati. Ketika beliau disakiti di Thaif, beliau tidak membalas dengan kemarahan, tapi berdoa: “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena mereka tidak tahu.”

Begitulah seharusnya semangat santri menyuarakan keadilan tanpa kehilangan kasih sayang.

Pesantren selalu mengajarkan ta’dhim (hormat) kepada guru, orang tua, dan pemimpin. Namun, hormat tidak berarti diam terhadap kemungkaran. Santri tetap boleh bersuara, tapi dengan hikmah dan akhlaq.

Kiai Sahal Mahfudz pernah berkata: “Perjuangan itu harus penuh ilmu. Karena kalau tidak, hanya akan jadi teriak tanpa arah.”

Baca Juga: Berkain Putih dan Berjiwa Merdeka: Potret Santri Indonesia Menyambut Hari Santri 2025

Maka, santri sejati adalah mereka yang tetap bersuara tapi tak kehilangan adab. Mereka tahu kapan harus berteriak, dan kapan harus menundukkan kepala dalam doa.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB

Terpopuler

X