IFA.id - Pernahkah dunia Islam punya mata uang sendiri yang diakui lintas negeri? Jawabannya: pernah, dan itu bernama dinar emas. Sebelum dolar menguasai ekonomi global, dinar adalah simbol kejayaan peradaban Islam.
Kini, di tengah krisis moneter dan ketidakstabilan mata uang fiat, muncul kembali pertanyaan besar: mungkinkah dinar bangkit lagi sebagai mata uang dunia Islam?
IFA.id mencatat bahwa dinar pertama kali dicetak pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan (sekitar tahun 696 M).
Nilainya stabil karena berbasis emas murni seberat 4,25 gram, dan diterima di seluruh dunia Islam — dari Andalusia hingga Asia Tengah.
Baca Juga: Rahasia Ketahanan Dinar Dirham di Tengah Inflasi Dunia
Selama berabad-abad, dinar bukan hanya alat tukar, tetapi simbol keadilan ekonomi. Harga barang stabil, inflasi nyaris tak ada, dan perdagangan antarwilayah berlangsung adil. Tak heran, banyak sejarawan menyebut masa itu sebagai zaman emas moneter Islam.
Namun, segalanya berubah ketika kolonialisme dan sistem kapitalis modern mengambil alih. Standar emas dihapus, dolar menjadi raja baru setelah perjanjian Bretton Woods (1944), dan dunia Islam kehilangan alat tukarnya sendiri.
Kini, lebih dari 50 negara Islam menghadapi tantangan yang sama: ketergantungan pada dolar dan volatilitas nilai tukar. Dinar kembali dibahas bukan karena nostalgia, tapi karena kebutuhan sistem keuangan yang lebih adil, stabil, dan berbasis nilai nyata.
IFA.id mencatat beberapa alasan utama mengapa wacana kembalinya dinar mencuat:
Baca Juga: Ekonomi Syariah 5.0: Revolusi Halal di Era Digital
-
Ketidakstabilan Dolar AS. Inflasi global dan kebijakan suku bunga tinggi membuat banyak negara muslim mencari alternatif.
-
Nilai intrinsik emas. Berbeda dengan uang kertas, dinar punya nilai fisik yang nyata.
-
Kemandirian ekonomi Islam. Dinar dianggap simbol kemerdekaan finansial dari sistem Barat.
-
Solidaritas antarnegara muslim. Dengan satu standar nilai, perdagangan antarnegara Islam bisa lebih efisien.