Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, ada kisah menarik. Seorang pedagang dari Madinah membawa barang ke Syam dan kembali dengan keuntungan besar. Saat ditanya rahasianya, ia menjawab, “Karena aku berdagang dengan dinar yang jujur, bukan angka yang bisa berubah.”
Kisah itu menjadi refleksi: nilai dinar bukan hanya karena emasnya, tapi karena kejujuran dalam transaksi. Inilah nilai spiritual yang ingin dihidupkan kembali oleh ekonomi Islam modern.
Baca Juga: Surga dan Neraka: Akhir dari Segala Perjalanan Manusia
IFA.id menilai, peluangnya tidak mustahil, tapi butuh waktu dan kesepakatan politik besar. Dunia Islam kini mulai membangun sistem keuangan syariah yang solid: mulai dari sukuk, bank syariah, hingga proyek mata uang digital berbasis emas.
Jika tren ini berlanjut, bukan mustahil satu hari nanti “Dinar Digital Syariah” menjadi kenyataan — bukan sekadar simbol nostalgia, melainkan bukti bahwa umat Islam bisa bangkit secara ekonomi dengan prinsipnya sendiri.
Doa Penutup
اللهم ارزقنا رزقًا حلالًا طيبًا مباركًا واسعًا، وأغننا بفضلك عن من سواك.
Allāhumma arzuqnā rizqan halālan ṭayyiban mubārakan wāsi‘an, wa aghninā bi faḍlika ‘amman siwāk.
Ya Allah, berilah kami rezeki yang halal, baik, penuh keberkahan, dan luas, serta cukupkan kami dengan karunia-Mu dari selain-Mu.
Semoga setiap upaya membangun ekonomi Islam termasuk menghidupkan kembali nilai dinar menjadi jalan keberkahan dan keadilan bagi umat.
Baca Juga: Padang Mahsyar: Detik-Detik Semua Rahasia Terbuka
Artikel Terkait
Fitnah Dajjal: Ujian Terbesar Umat Manusia Menjelang Akhir Zaman
Turunnya Isa AS dan Kemenangan Cahaya: Harapan di Tengah Akhir Zaman
Kiamat Pribadi: Ketika Hidup Berakhir Sebelum Dunia Runtuh