Tidak ada riwayat shahih yang menunjukkan Rasulullah mengadakan walimatu safar berupa jamuan makanan sebelum bepergian. Namun Nabi sering dilepas oleh para sahabat dengan doa dan salam, tanpa acara makan khusus.
2. Boleh dilakukan selama tidak diyakini wajib
Sebagian ulama kontemporer, termasuk dalam fikih sosial masyarakat Muslim, mengatakan bahwa walimatu safar hukumnya boleh selama tidak dianggap ibadah khusus atau kewajiban syariat. Selama dipahami sebagai adat baik untuk mempererat hubungan, maka tidak ada larangan.
3. Menjadi makruh jika berlebihan
Jika acara walimatu safar berubah menjadi ajang pamer, membebani keluarga, atau dimaknai sebagai ritual tertentu yang diyakini membawa keberkahan khusus, maka para ulama mengingatkan untuk menghindarinya.
Baca Juga: Hukum Walimatu Safar dalam Islam: Antara Adat dan Syariat
Sikap moderat inilah yang paling umum dianut.
Walimatu Safar Khusus Jamaah Haji dan Umrah
Mengapa pelepasan haji dan umrah terasa lebih sakral?
Karena perjalanan menuju Makkah bukan sekadar perjalanan geografis. Ada harapan, ada doa, ada rasa takut, dan ada rasa rindu. Banyak jamaah berangkat dengan hati yang campur aduk, seolah pulang kepada Allah.
IFA.id mencatat, ada tiga alasan mengapa walimatu safar untuk haji-umrah lebih sering dilakukan:
1. Perjalanan ibadah ini panjang dan penuh risiko.
Meskipun teknologi memudahkan, perjalanan spiritual tetap punya tantangan.
2. Keluarga ingin menitipkan doa.
Kata orang tua: “Tolong doakan keluarga di depan Ka'bah.” Ini bentuk cinta yang tulus.
Baca Juga: Rahasia Manfaat Haji Menurut Islam
3. Sosial-budaya masyarakat Muslim Indonesia.
Kita tumbuh dalam budaya gotong royong dan kebersamaan, sehingga momen penting selalu melibatkan banyak orang.
Artikel Terkait
Manfaat Haji bagi Jiwa dan Ibadah
Seni Mencintai Diri dalam Islam tanpa Jadi Egois
Haji, Perjalanan yang Membersihkan Hati
Keutamaan Haji dalam Menyatukan Umat