Kamis, 4 Juni 2026

Adab Walimatu Safar: Doa, Niat, dan Etika Sebelum Bepergian

- Sabtu, 22 November 2025 | 13:19 WIB
Bersafar dengan adab: luruskan niat, panjatkan doa, dan jaga etika agar perjalanan diberkahi Allah. (Foto/Ilustrasi)
Bersafar dengan adab: luruskan niat, panjatkan doa, dan jaga etika agar perjalanan diberkahi Allah. (Foto/Ilustrasi)

Adab Adab Penting dalam Walimatu Safar

Ketika seseorang meminta doa sebelum bepergian, hubungan batin antara yang pergi dengan yang ditinggalkan terasa lebih nyata. IFA.id mencatat beberapa adab yang jarang dibahas, padahal sangat relevan untuk dipraktikkan.

Baca Juga: Hukum Walimatu Safar dalam Islam: Antara Adat dan Syariat

1. Memulai Safar dengan Niat yang Baik

Setiap perjalanan mengandung niat. Bila safar dilakukan untuk ibadah, mencari ilmu, bekerja halal, atau silaturahmi, maka walimatu safar menjadi pembuka kebaikan. Ia menjadi ruang untuk mempertegas niat. Ulama mengingatkan bahwa niat adalah pondasi, dan setiap amalan tergantung pada niatnya.

Menurut beberapa penjelasan dalam kitab adab safar, menegaskan niat sebelum perjalanan dapat membuka pintu keberkahan. Bahkan, orang yang hadir dalam walimatu safar dapat turut mendoakan kelurusan niat tersebut.

2. Menghindari Kesombongan Ketika Mengadakan Acara

Ada kondisi ketika walimatu safar dilakukan dengan sangat mewah. Padahal inti acaranya bukan pamer kesiapan, melainkan memohon doa. Tradisi menjadi salah arah ketika fokusnya berpindah dari spiritual ke materi.

Para ulama mengingatkan bahwa walimatu safar adalah bentuk tawadhu, bukan ajang menunjukkan status sosial.

Baca Juga: Rahasia Manfaat Haji Menurut Islam

IFA.id pernah menemukan kasus di beberapa daerah tempat walimatu safar justru menimbulkan iri, beban sosial, bahkan komentarkomentar tidak perlu. Karena itu, adabnya adalah menjaga agar acara tetap sederhana dan bernilai.

3. Meminta Doa dengan Rendah Hati

Salah satu yang paling indah dari walimatu safar adalah adab saling mendoakan. Nabi mengajarkan sahabatnya doa yang sangat masyhur: agar Allah menjadi pelindung sepanjang perjalanan.

Tidak ada permintaan yang berlebihan. Tidak ada tuntutan tertentu. Hanya permohonan tulus dari satu hati kepada hati lain.

Ketika seseorang bepergian, ia tidak tahu apa yang menunggunya. Karena itu meminta doa menjadi bentuk pengakuan bahwa manusia selalu butuh perlindungan. Doa juga menenangkan batin orang yang ditinggalkan. Mereka merasa terlibat dalam keberangkatan itu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB

Terpopuler

X