Kamis, 4 Juni 2026

Membangun Self-Healing ala Islam yang Lebih Membumi

- Jumat, 21 November 2025 | 21:18 WIB
Self-healing ala Islam bukan tentang menjauh dari hidup, tetapi kembali menemukan diri dengan cara yang lebih lembut dan membumi. (Foto/Ilustrasi)
Self-healing ala Islam bukan tentang menjauh dari hidup, tetapi kembali menemukan diri dengan cara yang lebih lembut dan membumi. (Foto/Ilustrasi)

Menerima diri membuka pintu ketenangan. Dari sini, proses penyembuhan bisa bergerak.

Syukur: Obat Psikologis yang Sering Diabaikan

Syukur bukan sekadar ucapan terima kasih. Dalam Islam, syukur adalah cara melihat ulang hidup dengan sudut pandang yang lebih jernih.

IFA.id mencatat bahwa ketika seseorang mencatat hal-hal kecil yang layak disyukuri, ia sedang melatih otak untuk fokus pada kebaikan yang sering terlupakan.

Baca Juga: Rahasia Tenang Hati dalam Islam untuk Kesehatan Mental

Contohnya sederhana. Mengakui bahwa masih bisa bernapas dengan lega. Masih memiliki seseorang yang bisa dihubungi. Masih memiliki kesempatan memperbaiki hari.

Syukur bukan menutup mata dari masalah. Syukur membantu hati tidak tenggelam oleh masalah itu. Ia mengurangi beban psikologis dengan cara lembut karena membuat pikiran berhenti hanya pada hal-hal yang gelap.

Dalam penelitian modern, praktik syukur terbukti memperbaiki keseimbangan hormon stres. Dalam Islam, syukur adalah bentuk spiritualitas yang menumbuhkan rasa cukup. Perpaduannya menghasilkan ketenangan yang stabil dan membumi.

Dzikir: Nafas yang Menenangkan Batin

Dzikir bukan sekadar ritual. Ia adalah terapi penyembuhan yang bekerja pada level pikiran, emosi, dan napas. Saat seseorang berdzikir, fokusnya bergeser dari kekacauan luar menuju pusat diri yang lebih tenang.

Baca Juga: Tradisi Mengonsumsi Kurma di Kalangan Muslim

Kalimat “laa hawla wa laa quwwata illa billah” misalnya, memberi pesan lembut bahwa tidak ada kekuatan apa pun selain yang Allah izinkan. Ketika diucapkan perlahan, kalimat ini menurunkan ketegangan tubuh. Napas menjadi teratur. Pikiran lebih rapi.

Begitu juga dengan “hasbunallah wa ni’mal wakiil”. Kalimat ini memberi ruang bagi seseorang untuk meletakkan beban di tempat yang seharusnya. Tidak semua hal harus dipikul sendiri. Ada Zat yang jauh lebih kuat.

Jika dipraktikkan setiap pagi dan malam, dzikir menjadi bentuk self-healing yang konsisten. Ia mengisi ruang kosong dalam diri dan membantu menghaluskan luka-luka kecil yang sulit terlihat dari luar.

Menyendiri Sejenak Tanpa Menjauh dari Kehidupan

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB

Terpopuler

X