“Tidak semua orang itu setia. Ada yang suka menusuk dari belakang.”
Walaupun tidak menyebut nama, jika orang yang dimaksud dapat dikenali, maka hukumnya sama dengan ghibah. Masalahnya, media sosial membuat kalimat seperti ini cepat menyebar dan mempengaruhi pandangan banyak orang.
Ghibah modern sering tampil sebagai:
-
ulasan pedas terhadap publik figur,
-
gosip selebriti yang dibahas ulang,
-
komentar sinis terhadap kesalahan seseorang,
-
analisis tanpa izin terhadap kehidupan pribadi orang lain.
Semua ini membuat ghibah tampak wajar, padahal pengaruhnya jauh lebih luas daripada percakapan biasa.
Baca Juga: Senyum yang Dicatat Malaikat: Rahasia Amal Ringan Favorit Nabi
Bagaimana Menjaga Diri dari Ghibah?
IFA.id menghimpun beberapa langkah praktis yang dapat menjaga lisan dan jari dari ghibah, terutama di era digital:
Pertama, tanyakan manfaatnya.
Jika pembicaraan tidak membawa perbaikan, berhentilah.
Kedua, bayangkan orang itu hadir.
Jika kalimat terasa tidak pantas diucapkan di depannya, maka sebaiknya tidak diucapkan di belakangnya.
Ketiga, alihkan fokus pada solusi.
Jika membicarakan masalah seseorang, arahkan kepada tindakan memperbaiki, bukan memperbesar.
Baca Juga: Ketika Senyum Menjadi Ibadah: Cara Islam Menguatkan Hati Lewat Gestur Sederhana
Artikel Terkait
Sunnah yang Mulai Jarang Diamalkan: Senyum sebagai Identitas Muslim Sejati
Dari Wajah Cerah ke Hati Lapang: Mengapa Senyum Bisa Menjadi Sedekah Paling Indah