Namun semua pengecualian ini tetap punya garis tipis. Jika dilakukan berlebihan atau dibumbui opini yang tidak perlu, maka tetap dapat bergeser menjadi ghibah. Artinya, bukan sekadar apa yang disampaikan, tetapi mengapa dan bagaimanadisampaikan.
Baca Juga: Mengapa Ghibah Lebih Tajam dari Pedang?
Batas Emosional: Ketika Obrolan Menjadi Pelarian
Selain batas hukum, ada batas psikologis yang sering membuat fakta berubah menjadi ghibah. Dalam banyak kasus, seseorang membicarakan orang lain karena:
-
ingin membuktikan diri lebih baik,
-
ingin mendapat perhatian,
-
ingin melampiaskan kekesalan,
-
atau sekadar mencari bahan percakapan.
IFA.id pernah melakukan observasi kecil terhadap perilaku percakapan di lingkungan kerja dan menemukan bahwa ghibah sering muncul sebagai bentuk pelarian emosional.
Tidak ada maksud jahat, tetapi ada kebutuhan didengar. Sayangnya, kebutuhan itu akhirnya menjadikan orang lain sebagai korban.
Ketika seseorang merasa sedang “curhat,” ia lupa bahwa curhat pun punya batas. Menceritakan masalah diri diperbolehkan, tetapi membawa nama orang lain tanpa keperluan termasuk tindakan yang harus dikendalikan.
Baca Juga: Bahaya Ghibah yang Sering Diremehkan
Era Media Sosial: Fakta Menjadi Viral, Ghibah Menjadi Normal
Tidak bisa dihindari, era digital membuat batas fakta dan ghibah semakin tipis. Sebuah postingan yang tampak seperti analisis bisa saja menjadi ajang menguliti aib seseorang. Sementara komentar yang awalnya ingin meluruskan, berubah menjadi ajang saling menjatuhkan.
Bahkan IFA.id menemukan fenomena baru: ghibah tanpa nama.
Misalnya seseorang menulis status:
Artikel Terkait
Sunnah yang Mulai Jarang Diamalkan: Senyum sebagai Identitas Muslim Sejati
Dari Wajah Cerah ke Hati Lapang: Mengapa Senyum Bisa Menjadi Sedekah Paling Indah