Namun, para ulama juga memberi beberapa catatan penting:
-
Tidak boleh menyiksa atau menelantarkan.
Dalam hadis sahih riwayat Bukhari, Rasulullah ﷺ pernah menceritakan tentang seorang wanita yang disiksa di neraka karena mengurung seekor kucing hingga mati kelaparan. Ini menjadi peringatan keras agar manusia tidak berbuat zalim terhadap hewan. -
Kewajiban memberi makan dan menjaga kebersihan.
Islam sangat menekankan tanggung jawab. Jika seseorang memelihara kucing, maka ia wajib memberikan makanan, minuman, serta lingkungan yang layak. -
Kucing bukan najis.
Mazhab Syafi’i menegaskan bahwa air liur kucing yang tidak terlihat membawa kotoran atau najis tetap suci. Oleh karena itu, kucing boleh masuk rumah, bahkan di masjid pun tidak dilarang selama tidak mengotori tempat ibadah.
Baca Juga: Infaq Tak Harus Banyak, Asal dari Hati yang Lapang
IFA.id menyoroti bahwa dalam konteks modern, prinsip ini tetap relevan termasuk bagi mereka yang tinggal di kota besar dan menjadikan kucing sebagai teman emosional atau terapi mental.
Antara Kebersihan dan Kasih Sayang
Islam tidak hanya membolehkan memelihara kucing, tapi juga menekankan adab dan etika dalam merawatnya. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan ihsan (kebaikan) atas segala sesuatu.” (HR. Muslim)
Artinya, bahkan ketika memperlakukan hewan, seorang muslim wajib melakukannya dengan cara yang baik dan penuh belas kasih.
Dalam konteks merawat kucing, ihsan berarti menjaga kebersihan lingkungan, memastikan hewan sehat, tidak mengurungnya tanpa alasan, serta tidak mengganggu kenyamanan orang lain.
Baca Juga: Gerakan Infaq Harian: Kecil Nilainya, Besar Pahalanya
IFA.id melansir dari pandangan ustaz Ahmad Sarwat, Lc., MA (Rumaysho.com) bahwa Islam tidak menginginkan seseorang berlebihan mencintai hewan sampai melalaikan kewajiban manusia, seperti shalat atau kebersihan rumah. Segala sesuatu yang berlebihan bisa menjadi tercela, bahkan jika awalnya dibolehkan.
Kucing dan Spiritualitas: Simbol Lembutnya Hati Seorang Mukmin
Kucing bukan sekadar hewan peliharaan, tetapi juga cermin sifat lembut manusia. Dalam kisah para ulama terdahulu, banyak disebutkan bahwa orang saleh dikenal karena kasih sayangnya pada hewan.
Imam Abu Yusuf, murid Imam Abu Hanifah, bahkan disebut tak pernah makan sebelum memberi makan kucingnya terlebih dahulu.
Artikel Terkait
Dari Madrasah ke Surga: Menghormati Guru Sebagai Jalan Menuju Keberkahan Ilmu
Cahaya Ilmu dari Sang Guru: Meneladani Akhlak dan Kebijaksanaan dalam Islam
Rahasia Pahala di Balik Memelihara Kucing Menurut Islam
Mengapa Rasulullah SAW Sangat Menyayangi Kucing?