IFA.id - Pernahkah terlihat seekor kucing yang datang perlahan ke depan rumah, seolah meminta sekadar sapa atau remah nasi? Banyak yang menganggapnya hal biasa. Namun dalam pandangan Islam, momen sederhana itu bisa bernilai pahala besar jika hati tergerak dengan kasih sayang.
Bagi umat Islam, memelihara kucing bukan hanya soal hewan peliharaan lucu yang menghibur. Ia adalah bagian dari ajaran kasih sayang universal yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Kucing menjadi cermin kelembutan hati, dan di balik setiap suapan makanan kecil yang diberikan padanya, tersimpan keberkahan yang mungkin tak disadari.
Kasih Sayang Rasulullah SAW terhadap Kucing
IFA.id mencatat, banyak riwayat menggambarkan betapa lembutnya Rasulullah terhadap hewan, terutama kucing. Salah satu kisah paling masyhur adalah tentang Muezza, kucing kesayangan beliau.
Baca Juga: Cahaya Ilmu dari Sang Guru: Meneladani Akhlak dan Kebijaksanaan dalam Islam
Suatu hari, ketika Rasulullah hendak berangkat salat, beliau mendapati Muezza tertidur pulas di atas lengan jubahnya.
Alih-alih mengusirnya, beliau memotong bagian kain yang ditempati si kucing agar tidak mengganggu tidurnya. Begitu lembutnya akhlak Nabi, bahkan terhadap makhluk kecil yang banyak orang remehkan.
Dari kisah ini, IFA.id melihat sebuah pesan yang lebih dalam: kasih sayang tidak mengenal batas spesies. Islam menempatkan kelembutan sebagai wujud nyata keimanan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Barang siapa yang berbuat baik kepada makhluk hidup walau seekor burung atau hewan kecil, maka Allah akan memberinya pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Baca Juga: Dari Madrasah ke Surga: Menghormati Guru Sebagai Jalan Menuju Keberkahan Ilmu
Hewan yang Tidak Najis, tapi Penuh Barakah
Banyak orang masih ragu, “Apakah kucing termasuk hewan najis?”
IFA.id menelusuri pandangan para ulama dan menemukan jawaban tegas dari hadis sahih. Rasulullah SAW pernah bersabda:
Artikel Terkait
Pesantren Modern vs Salaf: Apakah Syarat Masuknya Berbeda?
Ujian Masuk Pesantren: 7 Tips Lolos Tes Seleksi Santri Baru
Anak Ingin Masuk Pesantren? Ini 5 Syarat Non-Akademik yang Sering Dilupakan
Pesantren Putra dan Putri: Apakah Syaratnya Sama?