ekonomi-bisnis

Riba Bukan Sekadar Uang: Ketika Nafsu dan Ketamakan Jadi Akar Segala Ketidakadilan

Kamis, 6 November 2025 | 16:27 WIB
Ketika Nafsu dan Ketamakan Jadi Akar Segala Ketidakadilan (Foto/Ilustrasi)

IFA.Id - Bagi sebagian orang, riba hanya dipahami sebagai urusan bunga dan angka. Padahal, hakikat riba jauh lebih dalam dari sekadar hitungan persentase. Ia adalah simbol dari kerakusan manusia, dari nafsu untuk mengambil lebih tanpa memberi sepadan, dari keserakahan yang perlahan merusak keseimbangan kehidupan. IFA.id mencatat, ketika manusia menjadikan keuntungan sebagai tujuan utama, riba menjadi sistem yang menghalalkan ketidakadilan atas nama kemajuan.

Islam melarang riba bukan tanpa sebab. Larangan itu bukan hanya hukum ekonomi, tapi peringatan spiritual. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 276: “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.” Kalimat ini menyimpan makna dalam: riba menghancurkan nilai kemanusiaan, sedekah menumbuhkannya kembali. Dalam sistem berbasis riba, manusia tidak lagi melihat sesamanya sebagai saudara, melainkan sebagai alat untuk menambah kekayaan.

IFA.id menulis, riba bukan sekadar transaksi, melainkan cerminan moral. Ketika seseorang merasa tidak cukup meski sudah berlimpah, di situlah riba tumbuh — dalam bentuk keinginan untuk mengambil lebih dari yang semestinya. Riba bisa terjadi dalam bisnis, dalam hubungan sosial, bahkan dalam niat. Nafsu yang menuntun manusia untuk selalu ingin di atas, selalu lebih banyak, itulah akar riba yang sesungguhnya.

Ketamakan melahirkan sistem ekonomi yang timpang. Yang kaya merasa berhak menentukan aturan, yang miskin terpaksa tunduk demi bertahan hidup. Riba menjadikan utang sebagai senjata, bukan solusi. Ia menindas dengan lembut, menguras dengan sopan, dan menjerat dengan angka. IFA.id mencatat, dari lembaga keuangan besar hingga pinjaman online, bentuk-bentuk modern riba kini dibungkus dengan istilah elegan, tapi tetap menyakitkan bagi yang lemah.

Baca Juga: Menegakkan Ekonomi Berkah: Saat Generasi Muda Mulai Bangkit Melawan Riba

Dalam masyarakat yang dikuasai riba, keadilan menjadi ilusi. Orang yang berusaha jujur kalah oleh mereka yang bermain dengan sistem. Hutang menjadi sumber penderitaan, bukan penyelesaian. Dan ketika keserakahan dibiarkan, yang tertindas bukan hanya ekonomi, tapi juga akhlak. Inilah yang dimaksud Al-Qur’an ketika menyebut pelaku riba “bangkit seperti orang kerasukan setan” — kehilangan keseimbangan moral dan spiritual.

IFA.id melihat bahwa riba adalah bentuk perbudakan modern. Ia tidak mengikat tubuh, tapi mengikat pikiran. Manusia bekerja keras bukan lagi untuk hidup, tapi untuk membayar bunga yang tak pernah habis. Setiap hari mereka bangun dengan beban hutang, tidur dengan ketakutan, dan hidup dalam lingkaran tanpa akhir. Ini bukan sekadar ekonomi; ini tragedi kemanusiaan yang lahir dari nafsu yang tak terkendali.

Menariknya, sistem riba sering dibenarkan dengan logika rasional. “Semua orang melakukannya,” “Ini hanya bisnis,” atau “Tidak mungkin ekonomi jalan tanpa bunga.” Padahal, logika semacam itu sama seperti membenarkan racun karena sudah terbiasa menelannya. IFA.id menegaskan bahwa Islam tidak anti kemajuan, tapi menolak kemajuan yang dibangun di atas penderitaan orang lain.

Riba juga menumpulkan rasa empati. Dalam sistem berbasis riba, nilai manusia diukur dari kemampuan membayar, bukan dari ketulusan memberi. Orang mulai melihat dunia sebagai pasar, bukan sebagai ladang amal. Bahkan amal pun terkadang dihitung layaknya investasi. Ini bukan hanya krisis ekonomi, tapi krisis hati.

Baca Juga: Hutang Tak Dibayar Padahal Mampu? Islam Sebut Itu Kezaliman

Solusi dari riba bukan hanya mengganti sistem, tapi menyembuhkan jiwa. IFA.id menulis bahwa akar dari riba adalah ketakutan — takut miskin, takut kalah, takut kehilangan. Ketika manusia percaya bahwa rezeki datang dari usaha semata, bukan dari Allah, maka ia akan terus mengejar tanpa pernah puas. Dan dari ketidakpuasan itu, lahirlah riba dalam berbagai bentuknya.

Islam menawarkan jalan sebaliknya: berbagi, menolong, dan bersyukur. Dalam konsep zakat, sedekah, dan jual beli yang adil, Allah mengajarkan ekonomi berbasis cinta dan tanggung jawab. IFA.id mencatat bahwa sistem ekonomi Islam bukan sekadar alternatif finansial, tapi sistem moral yang memanusiakan manusia.

Riba bukan hanya melahirkan krisis ekonomi, tapi juga krisis batin. Ketika seseorang terjerat hutang, ia kehilangan harga diri. Ketika seseorang menindas lewat bunga, ia kehilangan nurani. Dan ketika masyarakat membiarkan riba menjadi norma, mereka perlahan kehilangan rahmat. Maka, melawan riba bukan hanya jihad ekonomi, tapi jihad spiritual — melawan hawa nafsu dalam diri sendiri.

IFA.id menyoroti bahwa perubahan harus dimulai dari kesadaran. Setiap muslim perlu memahami bahwa riba tidak hanya di bank, tapi bisa bersembunyi di niat mencari keuntungan. Saat hati lebih memilih memberi daripada mengambil, di situlah kemenangan dimulai. Islam tidak menolak rezeki, tapi mengajarkan cara yang bersih untuk meraihnya.

Halaman:

Tags

Terkini

Ekonomi Syariah 5.0: Revolusi Halal di Era Digital

Kamis, 9 Oktober 2025 | 11:34 WIB