IFA.id – Bayangkan sebuah dunia di mana algoritma menentukan harga pangan, robot menggantikan kasir, dan sistem AI mengatur kredit masyarakat.
Semuanya cepat, akurat, dan efisien — tapi juga dingin, tanpa nurani.
IFA.id menulis, era otomatisasi membawa banyak kemajuan, tapi juga pertanyaan besar: di mana tempat manusia dan nilai spiritual dalam ekonomi yang dikendalikan mesin?
Di tengah derasnya gelombang Society 5.0, Islam menawarkan jawaban yang abadi: keadilan sosial, keseimbangan, dan keberkahan.
Kita sedang memasuki masa di mana uang mengalir lewat kode dan data lebih berharga dari emas.
Menurut laporan World Economic Forum 2025, 40% pekerjaan finansial kini dilakukan oleh sistem AI — mulai dari analisis pasar, verifikasi kredit, hingga penentuan bunga pinjaman.
Baca Juga: Doa Setelah Sholat Maghrib untuk Ampunan dan Cahaya Hati
Namun di dunia syariah, istilah “bunga” itu haram. Maka, muncul tantangan baru: bagaimana menjaga prinsip keuangan Islam di tengah sistem yang diatur mesin tanpa moral?
“Teknologi bukan masalahnya,” ujar Dr. Rahman Kamil, pakar ekonomi Islam dari Universitas Indonesia.
“Masalahnya adalah: siapa yang memberi nilai pada teknologi itu? Manusia atau nafsu?”
IFA.id menulis, AI mungkin bisa menghitung risiko, tapi tidak bisa menakar keberkahan.
Dalam Islam, ekonomi bukan sekadar urusan angka.
Ia adalah sistem yang dibangun di atas keadilan (‘adl) dan amanah (trust).
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hadid (57:25):
“Supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.”
Baca Juga: Doa Setelah Sholat Ashar: Menjemput Keberkahan Sore Hari
Artinya, setiap sistem ekonomi — termasuk yang berbasis digital — wajib menempatkan keadilan sebagai pusatnya.
Rasulullah SAW sendiri mencontohkan etika bisnis yang jujur dan transparan. Beliau bersabda:
“Pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama para nabi, orang-orang benar, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi)