Indonesia memilih jalur negosiasi dan telah beberapa kali bertukar dokumen dengan pemerintah AS, dengan fokus pada penyeimbangan neraca perdagangan dan perlindungan sektor strategis nasional.
Respons Negara Mitra Dagang
Negara-negara mitra dagang utama AS berlomba untuk menegosiasikan tarif resiprokal untuk menghindari lonjakan bea masuk yang dapat mengganggu ekspor mereka ke pasar AS.
Beberapa strategi yang ditempuh antara lain:
Negosiasi konsesi selektif: Negara-negara membuka akses di sektor non-sensitif seperti logistik dan jasa digital, sementara tetap melindungi sektor strategis seperti pangan dan industri kecil-menengah.
Tawaran insentif investasi: Indonesia, misalnya, menawarkan insentif investasi dan akses pasar sebagai bagian dari negosiasi untuk menurunkan tarif resiprokal.
Diplomasi intensif: Pertemuan bilateral dan pertukaran dokumen dilakukan secara maraton menjelang tenggat waktu, dengan harapan dapat mengamankan kesepakatan sebelum 9 Juli 2025.
Baca Juga: Indonesia Pilih Jalur Negosiasi Hadapi Tarif-Trump
Dampak dan Prospek
Kebijakan tarif baru AS ini mendapatkan reaksi keras dari negara-negara mitra dagang dan pelaku pasar global.
Banyak pihak berpendapat bahwa kebijakan ini dapat memicu perang dagang baru, mengganggu rantai pasokan global, dan menghambat pertumbuhan ekonomi dunia.
Namun, Trump menegaskan bahwa kebijakan ini adalah bentuk “kemerdekaan ekonomi” AS dan upaya untuk mengembalikan lapangan kerja ke dalam negeri.