IFA.id – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan bahwa pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 tetap sehat dan kredibel meskipun dihadapkan pada tantangan global yang semakin kompleks.
Dalam laporan semester I 2025, Sri Mulyani menyebutkan bahwa realisasi penerimaan negara telah mencapai Rp1.210,19 triliun, sementara belanja negara tercatat sebesar Rp1.407,1 triliun.
Baca Juga: Sri Mulyani Pastikan Defisit APBN 2025 Terkendali Sesuai Target
Angka tersebut menunjukkan bahwa APBN masih mampu menjalankan perannya sebagai instrumen utama stabilisasi ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal, seperti pelemahan ekonomi global, perang dagang, dan konflik geopolitik yang meluas.
Sri Mulyani menjelaskan bahwa penerimaan pajak hingga semester I 2025 mencapai Rp831,27 triliun atau sekitar 38% dari target APBN 2025 yang sebesar Rp2.189,3 triliun.
Meskipun sempat mengalami kontraksi tajam pada awal tahun akibat tingginya restitusi pajak, tren perbaikan mulai terlihat sejak Maret 2025.
Baca Juga: Realisasi APBN 2025 Capai Rp250 Triliun, Sri Mulyani Pastikan Pengelolaan Prudent dan Efisien
Penerimaan pajak pada bulan Maret dan April tumbuh positif, sementara pada Mei sempat kembali turun namun mulai stabil pada Juni.
Pola naik-turun ini dinilai konsisten terjadi setiap tahun, dan pemerintah optimistis pada semester II 2025, penerimaan negara dapat distabilkan sebagai tulang punggung APBN.
Di sisi belanja, realisasi semester I 2025 sebesar Rp1.407,1 triliun naik tipis 0,65% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan alokasi terbesar untuk program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis, ketahanan pangan, pendidikan, dan kesehatan.
Baca Juga: Presiden Prabowo Tekankan Pendidikan sebagai Prioritas Utama dalam APBN 2025
Pemerintah juga telah meluncurkan dua paket stimulus fiskal pada Juni–Juli 2025 dengan total anggaran Rp24,44 triliun.
Stimulus ini meliputi diskon transportasi, bantuan sosial, subsidi upah, dan insentif pajak, yang semuanya bertujuan menjaga daya beli masyarakat serta mendorong konsumsi rumah tangga di tengah perlambatan ekonomi global.
Untuk semester II 2025, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional berada di kisaran 4,7–5,0%, dengan inflasi yang tetap terjaga di level 2,2–2,6%.