ekonomi-bisnis

Pemerintah Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2025 Jadi 4,7–5 Persen

Rabu, 2 Juli 2025 | 14:52 WIB
Pemerintah turunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2025 (Foto/Freepik)

IFA.id – Pemerintah Indonesia resmi menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2025 menjadi 4,7–5%, lebih rendah dari asumsi awal dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 sebesar 5,2%.

Langkah ini dilakukan sebagai bentuk penyesuaian terhadap kondisi global dan domestik yang diperkirakan memengaruhi laju ekonomi nasional.

Pemangkasan ini juga sejalan dengan koreksi yang dilakukan oleh sejumlah lembaga internasional.

Baca Juga: Realisasi Belanja Negara Tembus Rp620,3 Triliun per Maret 2025, Ini Rinciannya

Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) sama-sama menurunkan estimasi pertumbuhan Indonesia untuk 2025 dari 5,1% menjadi 4,7%.

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) juga merevisi proyeksinya dari 5,2% menjadi 4,7% secara bertahap.

Tekanan Global dan Kinerja Domestik
Penurunan proyeksi ini dipengaruhi oleh ketidakpastian global yang meningkat, termasuk tensi geopolitik, perlambatan pertumbuhan di negara mitra dagang utama, serta dampak perang dagang yang belum mereda.

Baca Juga: Pemerintah Gulirkan Kembali Insentif Motor Listrik Mulai Agustus 2025 Anggaran Rp 250 Miliar, Subsidi Tetap Rp 7 Juta per Unit

Di sisi domestik, realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2025 hanya mencapai 4,87% year-on-year, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Faktor lain yang ikut menekan kinerja ekonomi dalam negeri antara lain penurunan laju investasi, pelemahan konsumsi, dan penerimaan pajak yang diperkirakan tidak mencapai target.

Langkah Strategis Pemerintah
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan bahwa pemerintah tetap optimistis menjaga pertumbuhan ekonomi di kisaran 5% melalui berbagai strategi antisipatif dan adaptif.

Baca Juga: OJK Dorong Perusahaan Besar untuk Lakukan IPO dan Tingkatkan Kualitas Emiten di Bursa

“Pemerintah akan memanfaatkan instrumen fiskal secara countercyclical, termasuk dengan mempercepat realisasi belanja negara di saat ekonomi melemah,” ujarnya.

Beberapa program prioritas yang akan didorong adalah makan bergizi gratis, pembiayaan perumahan melalui FLPP, Koperasi Merah Putih, dan Sekolah Rakyat.

Halaman:

Tags

Terkini

Ekonomi Syariah 5.0: Revolusi Halal di Era Digital

Kamis, 9 Oktober 2025 | 11:34 WIB