Pemerintah meyakini program-program ini memiliki efek berganda terhadap pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat.
Baca Juga: Presiden Prabowo Targetkan Peredaran Uang di Desa Meningkat 500% dan Perluas Program MBG
Selain itu, pemerintah akan menjaga stabilitas harga dan nilai tukar rupiah yang diperkirakan berada pada kisaran Rp 16.300–16.800 per dolar AS, serta mempertahankan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) pada level sekitar 7%.
Catatan dari Ekonom
Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memberikan catatan kritis terhadap proyeksi pemerintah.
Lembaga ini memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun depan berpotensi berada di bawah target pemerintah, terutama jika tekanan fiskal meningkat.
Baca Juga: IIF Catat Laba Bersih Rp122,51 Miliar pada 2024, Tumbuh 17,63%
INDEF juga menyoroti risiko pelebaran defisit anggaran yang dapat mendorong rasio pembayaran utang terhadap PDB menyentuh level 40%, serta kemungkinan terjadinya penyesuaian belanja kementerian/lembaga dan pengurangan transfer ke daerah.
Kesimpulan
Di tengah berbagai tekanan eksternal dan perlambatan domestik, pemerintah menyesuaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2025 menjadi 4,7–5%.
Meski demikian, pemerintah tetap berupaya menjaga stabilitas dan mempercepat pemulihan ekonomi melalui strategi fiskal yang terukur dan program prioritas nasional.