IFA.id -- Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan dagang dengan China akan tercapai, meskipun ketegangan akibat perang tarif antara kedua negara masih berlangsung.
Pernyataan ini disampaikan Trump saat menjawab pertanyaan jurnalis di Gedung Putih mengenai kemungkinan menghubungi Presiden China, Xi Jinping.
Trump menegaskan bahwa ia percaya akan tercapainya kesepakatan yang baik dengan China, meskipun belum ada kejelasan mengenai kapan dan bagaimana perundingan akan dimulai.
Baca Juga: PBB Peringatkan Risiko Resesi Global, Negara Berkembang Terancam 'Badai Sempurna'
Sementara itu, China menyerukan agar Amerika Serikat menghentikan tekanan ekstrem terhadap ekonominya dan menuntut penghormatan dalam setiap pembicaraan dagang yang akan dilakukan.
Meskipun Trump telah melonggarkan sejumlah tarif tinggi terhadap beberapa mitra dagang, ia tetap mempertahankan bea masuk baru terhadap barang-barang asal China.
Total tarif impor yang diberlakukan terhadap produk China kini mencapai 145 persen, menunjukkan sikap tegas Trump dalam menghadapi persaingan dagang dengan negara tersebut.
Baca Juga: Pemprov Jabar Pastikan Pergeseran APBD 2025 Efisien dan Transparan
Kementerian Perdagangan China sebelumnya mengkritik Amerika Serikat atas penerapan tekanan ekstrem dan menekankan pentingnya saling menghormati dalam setiap negosiasi.
Namun, kedua belah pihak masih berselisih mengenai siapa yang seharusnya memulai pembicaraan dagang, mencerminkan ketegangan yang masih tinggi dalam hubungan bilateral mereka.
Pernyataan optimistis Trump ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan akibat perang tarif yang telah berlangsung selama beberapa waktu.
Baca Juga: Mayat Perempuan Telanjang Ditemukan Terlilit Lakban di Kamar Kos Ciamis, Diduga Dibunuh
Meskipun demikian, belum ada indikasi konkret mengenai langkah-langkah yang akan diambil untuk memulai kembali perundingan dagang antara kedua negara.
Para pengamat ekonomi menilai bahwa meskipun pernyataan Trump menunjukkan niat untuk mencapai kesepakatan, ketidakpastian masih menyelimuti proses negosiasi.