IFA.id -- Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Konferensi Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) mengeluarkan peringatan serius bahwa ekonomi global berada di ambang resesi.
Laporan terbaru UNCTAD menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan melambat menjadi 2,3% pada tahun 2025, menempatkan dunia pada jalur resesi.
UNCTAD menyoroti bahwa banyak negara berkembang menghadapi tekanan eksternal yang semakin memburuk, beban utang yang tidak berkelanjutan, dan pelemahan pertumbuhan domestik.
Kondisi ini menciptakan 'badai sempurna' yang mengancam pencapaian pembangunan yang telah diperoleh selama dekade terakhir.
Baca Juga: Pemprov Jabar Pastikan Pergeseran APBD 2025 Efisien dan Transparan
Faktor-faktor seperti kebijakan moneter yang ketat di negara maju, ketegangan perdagangan, dan ketidakpastian global turut memperparah situasi.
UNCTAD memperingatkan bahwa kebijakan fiskal dan moneter yang tidak hati-hati dapat mendorong dunia menuju resesi dan stagnasi global.
Negara-negara berpenghasilan rendah sangat rentan terhadap krisis ini, dengan beban utang yang meningkat dan pertumbuhan domestik yang melemah.
UNCTAD menekankan perlunya koordinasi kebijakan internasional untuk mengatasi tantangan ini dan mencegah kerusakan ekonomi yang lebih parah.
Baca Juga: Mayat Perempuan Telanjang Ditemukan Terlilit Lakban di Kamar Kos Ciamis, Diduga Dibunuh
Laporan tersebut juga mencatat bahwa perlambatan global berpotensi menimbulkan kerusakan yang lebih buruk daripada krisis keuangan pada 2008 dan guncangan COVID-19 pada 2020.
UNCTAD menyerukan strategi baru untuk mencegah dampak negatif yang lebih luas terhadap ekonomi globa.
PBB mendesak negara-negara maju untuk mempertimbangkan dampak kebijakan mereka terhadap negara berkembang dan bekerja sama dalam menciptakan solusi yang berkelanjutan.
Tanpa tindakan kolektif, dunia berisiko menghadapi krisis ekonomi yang lebih dalam dan berkepanjangan.