Djoenaedi Joesoef, lahir pada 6 Juni 1933 di Solo, Jawa Tengah, adalah pendiri PT Konimex Pharmaceutical Laboratories.
Ia tumbuh dalam keluarga yang mengelola toko obat tradisional Tionghoa, Eng Thay Hoo, yang menjual obat-obatan dan menyediakan layanan pengobatan bagi masyarakat sekitar.
Pada 8 Juni 1967, Djoenaedi mendirikan Konimex, akronim dari "Kondang Impor Ekspor", dengan harapan perusahaan ini dapat sukses di pasar domestik dan internasional.
Baca Juga: Varnion dan ZTE Percepat Transformasi Digital Industri Perhotelan Indonesia
Awalnya, Konimex bergerak di bidang perdagangan obat-obatan, bahan kimia, dan alat kesehatan.
Tahun 1972 menjadi tonggak penting bagi Konimex dengan peluncuran produk Over The Counter (OTC) seperti Paramex dan Konidin, yang memudahkan masyarakat mendapatkan obat tanpa resep dokter.
Inovasi ini meningkatkan popularitas Konimex dan memenuhi kebutuhan obat yang terjangkau.
Filosofi bisnis Djoenaedi, dikenal sebagai 3MU: Mutu, Mudah, dan Murah, memastikan produk Konimex berkualitas tinggi, mudah diakses, dan terjangkau oleh semua kalangan.
Baca Juga: Irwan Barudi: Dari Akuntan CFC ke Pendiri 300+ Gerai Ayam Geprek Sa'i dan Haji Chicken
Selain obat-obatan, Konimex juga memproduksi vitamin, tetes mata, sirup, permen seperti Hexos dan Nano-Nano, serta biskuit Tini Wini Biti, menunjukkan kemampuan perusahaan dalam berinovasi dan memenuhi kebutuhan pasar yang berkembang.
Ekspansi bisnis Konimex meluas ke pasar internasional pada tahun 1995, menjangkau negara-negara seperti Singapura, Malaysia, Myanmar, dan Arab Saudi.
Keberhasilan ini mencerminkan visi Djoenaedi untuk menjadikan Konimex sebagai pemain global dalam industri farmasi, berawal dari usaha kecil hingga menjadi raksasa farmasi Indonesia.