IFA.id -- Pada 18 Maret 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam lebih dari 5%, yang menyebabkan Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan penghentian sementara perdagangan (trading halt).
Menanggapi situasi tersebut, Presiden Direktur PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP), Parwati Surjaudaja, menegaskan bahwa perusahaan tetap optimis dan fokus pada kinerja fundamental serta keuangan.
Ia menyatakan bahwa OCBC NISP telah melewati berbagai krisis selama lebih dari 83 tahun dan terus mempertahankan kinerja positif melalui prinsip kehati-hatian.
Menariknya, di tengah volatilitas pasar, saham NISP justru mengalami kenaikan 4,60% (+60 poin) pada perdagangan hari tersebut, mencerminkan kepercayaan investor terhadap fundamental OCBC NISP yang solid.
Direktur OCBC NISP, Johanes Husin, menambahkan bahwa meskipun risiko pasar meningkat, kondisi tersebut masih dalam batas sehat berkat intervensi regulator dan likuiditas yang terjaga.
Ia menyoroti langkah Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga di level 5,75% untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan likuiditas.
Baca Juga: Wamen ESDM Pastikan Pasokan BBM dan LPG Aman di Pontianak Menjelang Lebaran 2025
OCBC NISP tetap yakin bahwa keputusan Bank Indonesia dalam menjaga keseimbangan pasar keuangan akan memberikan dampak positif bagi stabilitas ekonomi Indonesia.
Perusahaan berkomitmen untuk terus memastikan kinerja yang baik, pertumbuhan berkelanjutan, dan komunikasi yang diperlukan dengan para pemangku kepentingan.